Alfamart Atur Strategi Hadapi Pelambatan Ekonomi

Gerai Alfamart
Sumber :

VIVA.co.id - Perlambatan ekonomi yang terjadi di Indonesia, berdampak cukup besar terhadap sejumlah sektor usaha, salah satunya adalah industri ritel.

Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) Anggara Hans Prawira, Rabu 2 September 2015, mengatakan untuk menghadapi pelemahan daya beli,  perusahaan menerapkan sejumlah strategi untuk bisa bertahan.

Menurutnya, strategi yang akan dilakukan adalah penambahan jumlah toko, memanfaatkan teknologi informasi, mengoptimalkan lini bisnis di luar nergi, dan yang terakhir adalah menaikkan harga jual ke konsumen.

Tinggal Sehari, Yuk Berburu Sepatu Keren Khas Indonesia

"Namun, opsi terakhir dilakukan jika suplier, atau pemasok menaikkan harga ke Alfamart. Mau tidak mau, kami juga menaikkan harga jual ke konsumen. Biasanya di kisaran 4 hingga 10 persen," kata Hans seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima VIVA.co.id.

Meskipun produk yang dipasarkan di toko Alfamart merupakan produk lokal, namun beberapa di antaranya menggunakan bahan baku impor. Akibatnya, ikut terkena imbasnya pada saat rupiah melemah.

Hans mengakui, opsi menaikkan harga bisa menurunkan daya beli konsumen yang berujung pada melambatnya pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan.

Namun, agar roda bisnis tetap berjalan Alfamart memanfaatkan perangkat teknologi, seperti tablet. Tujuannya, guna mengefisiensikan penggunaan kertas dalam setiap laporan transaksi bisnis.

Tak hanya itu, perusahaan ritel ini juga terus menambah toko untuk meningkatkan volume penjualan barang. “Targetnya secara nasional, sekitar 1.200 toko baru sepanjang 2015,’’ ujarnya.

Ekonomi yang lesu juga tidak membuat perusahaan menghentikan ekspansi toko di luar negeri. Hans menyebut, pihaknya akan membuka 100 toko Alfamart di Filipina pada semester II-2015.  “Hingga semester pertama, perusahaan telah membuka 60 gerai Alfamart di Filipina,”  kata Hans.

Dengan kehadiran toko Alfamart di luar negeri, Alfamart berharap bisa menggenjot ekspor produk-produk lokal ke luar negeri. Rupiah yang melemah diharapkan bisa membuat harga produk ekspor ini bersaing.

Hans menambahkan, kondisi perekonomian saat ini adalah tantangan bagi peritel. Karena itu, perusahaan tidak mematok target yang muluk untuk tahun ini.  “Target pertumbuhan kami hanya sekitar 6 - 10 persen,” tutur Hans.

Menurut dia, untuk menggairahkan perekonomian nasional, tidak cukup hanya  dengan mengandalkan festive season, yakni momen Ramadhan dan Lebaran. Peritel sangat menunggu belanja pemerintah (government  spending).  

“Saya berharap, anggaran belanja pemerintah segera digulirkan, agar mendongkrak daya beli. Proyek infrastruktur yang belum dijalankan pemerintah, misalnya, bisa menstimulus daya beli masyarakat,” ujarnya. (asp)

Cara Pemerintah Akali Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia

Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,18% Saja Sudah Mengejutkan

Belanja pemerintah, konsumsi dan investasi pendorong utama ekonomi.

img_title
VIVA.co.id
5 Agustus 2016