BISNIS

Mana Lebih Besar, Subsidi BBM atau Raskin?

Pemerintah tidak bisa mengendalikan akses subsidi yang diharapkan dinikmati masyarakat.

ddd
Sabtu, 11 Desember 2010, 11:29
Mobil Tangki Minyak Pertamina
Mobil Tangki Minyak Pertamina (photobucket.com)

VIVAnews - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Latif Adam, menilai anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp88,9 triliun tidak pro masyarakat kecil. Subsidi BBM per kendaraan lebih besar dibandingkan beras untuk rakyat miskian (raskin) yang benar-benar dibutuhkan masyarakat kecil.

Latif lalu mengilustrasikan perbedaan harga Premium dengan Pertamax yang mencapai Rp2.000 per liter. Kendaraan pribadi rata-rata menghabiskan 10 liter per hari, sehingga pemerintah harus mensubsidi Rp20.000 per mobil per hari.

"Dalam sebulan, maka pemerintah harus mensubsidi Rp480 ribu per mobil pribadi," kata Latif dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta, Sabtu 11 Desember 2010.

Dia menambahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 9,9 juta mobil pribadi di Indonesia. Jika mengacu data itu, subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah mencapai Rp4,8 triliun per bulan. Dalam setahun, pemerintah harus mengeluarkan Rp57 triliun untuk subsidi mobil pribadi.

"Sebesar 64,8 persen dari total subsidi Rp88,9 triliun itu dinikmati orang yang mempunyai mobil pribadi," ujarnya.

Sedangkan subsidi untuk beras rakyat miskin sangat kecil. Latif kemudian menjabarkan harga pembelian pemerintah (HPP) beras sebesar Rp5.000 per kilogram. Ada selisih sekitar Rp3.400 per kilogram dari beras yang dijual di pasaran.

"Masyarakat miskin rata-rata mengonsumsi beras 15 kilogram per bulan. Jadi, subsidi beras masyarakat miskin hanya Rp51.000 ribu per bulan per keluarga," katanya.

Menurut Latif, ada model subsidi yang tidak benar dan dilakukan pemerintah. Pemerintah tidak bisa mengendalikan akses subsidi, sehingga nantinya kebijakan itu dapat dinikmati semua lapisan masyarakat.

"Sekarang ini kan pemerintah hanya melakukan subsidi total, semua disubsidi. Harus ada visi komprehensif dari pemerintah," katanya.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
Massul Ananta
13/12/2010
Sy kok gak setuju istilah subsidi. Krn duwiitnya di rakyat & kembali ke rakyat. Entah kalau pemerintah tidak mendapatkan duwitnya dari rakyat, baru istilah itu betul. Seperti halnya kekayaan alam, duwit negara mustinya juga dipakai untuk kemakmuran rakyat
Balas   • Laporkan
Bibil_09
11/12/2010
Yang di dinginkan pemerintah itu apa sih ? Kalo Subsidi BBM di cabut, bakalan banyak "pelangsir" yg brantem di POM bensin . .
Balas   • Laporkan
CHOIRUL
11/12/2010
lebih baik subsidi BBM untuk kendaraan yang produktif yang mempengaruhi kehidupan rakyat kecil contoh mobil barang,angkutan umum
Balas   • Laporkan
indon
11/12/2010
saya mengusulkan. cabut subsisi BBM dan di ganti dengan subsidi raskin,biaya pendidikan,listrik, air. untuk rumah tangga menengah kebawah.
Balas   • Laporkan
ibenk
11/12/2010
alasan di cabut subsidi karena untuk rakyat kecil cuma kedok doang! buktinya sekarang blt tanpa ada lanjutan...... yang pake premium itu banyak buat kepentingan orang kecil...... lihat industri atau perusahaan kecil yang mobilisasinya biasa pake premium
Balas   • Laporkan
kritikus
11/12/2010
raskin robins?
Balas   • Laporkan
bacul
11/12/2010
ini baru komentar seseorang yang pro rakyat kecil.. tidak seperti Pak Effendi Simbolon yang hanya bisa menolak semua program pemerintah yg pro rakyat!! mentang2 dari parpol opsisi (rakyat tidak bodoh!!!)
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id