BISNIS

Tiga Potensi Masalah Jika Premium Dibatasi

Satu di antaranya potensi kebangkrutan pengusaha SPBU karena kalah bersaing dengan asing.

ddd
Kamis, 16 Desember 2010, 07:27
SPBU Pertamina
SPBU Pertamina (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Rapat pembahasan pengendalian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi antara pemerintah dan Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyepakati penundaan implementasi program itu pada akhir kuartal pertama atau Maret 2011. Keputusan itu mundur dari usulan pemerintah pada 1 Januari 2011.

Namun, menurut Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) dalam keterangan yang diterima VIVAnews.com di Jakarta, Rabu malam, 15 Desember 2010, terdapat tiga potensi masalah jika pengaturan BBM bersubsidi dilakukan:

1. Timbulnya pasar gelap BBM bersubsidi. Karena angkutan umum berubah menjadi pengecer BBM, atau ada dugaan 'kongkalikong' di tingkat petugas SPBU dengan konsumen tertentu jika tidak ada pengawas lapangan.

2. Kebangkrutan pengusaha SPBU mitra PT Pertamina, yang diikuti kerugian BUMN minyak itu di sektor hilir, jika kalah bersaing dari sisi harga atau kualitas dengan SPBU asing.

3. Kerugian UKM yang menggunakan kendaraan pelat hitam sebagai modal usahanya.

Untuk mengantisipasi tiga potensi masalah itu, F-PPP mengusulkan hal-hal berikut:

1. Masalah pertama.
- Estimasikan kebutuhan BBM bersubsidi per kabupaten yang di-breakdown kepada setiap SPBU berdasarkan pola penggunaan angkutan umum selama ini.
- Jika terdapat penggunaan yang melampaui estimasi, lakukan penyelidikan kepada SPBU, apakah wajar atau menyimpang. Jika menyimpang, tindak tegas oleh Pertamina dengan mencabut izin SPBU.
- Gunakan kartu kendali, manual atau elektronik. Dengan kartu ini, setiap angkutan umum pengguna BBM bersubsidi dikontrol pembeliannya. Jika melebihi kuota pembelian harian, maka pemilik angkutan umum ditindak tegas.

2. Masalah kedua.
Harus tetap ada proteksi kepada Pertamina sebagai state owned oil company dalam persaingannya dengan SPBU asing, apakah dalam bentuk proteksi perizinan SPBU atau proteksi fiskal.

3. Masalah ketiga.
Dibuat skema pengurangan dampak kerugian kepada usaha kecil dan menengah (UKM) dengan kompensasi fiskal tertentu. (art)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
PEMBACA BUDIMAN
18/12/2010
AKAN BANYAK MAVIA BBM, YANG MELIBATKAN PETUGAS SPBU DLL AKAN PENUH KORUPSI MINYAK DG BARTER SELISIH HARGA PREMIUM PERSIS MAFIA HUKUM YG SEDANG RAMENYA DI TV.
Balas   • Laporkan
Miko M Akbar
16/12/2010
Lha ngapain Pemerintah via Pertamina atau ESDM meminta SPBU menyiapkan despenser Pertamax, Kalo mau menghapus subsidi BBM (apapun persepsi tentang subsidi) untuk jenis kendaraan tertentu atau plat Hitam, yah silahkan saja, tapi memaksa orang membeli Perta
Balas   • Laporkan
senang1963
16/12/2010
VIVA BANGSAku, APAPUN ATURANNYA pasti ADA CELAH
Balas   • Laporkan
Axelarden
16/12/2010
Masalah inti tuh sebenarnya kurangi macet,,,perbaiki fasilitas angkutan umum...buat yang nyaman,aman,tepat waktu...terus bagi yang punya mobil tapi g punya lahan parkir siakt aja,dan naikan tarif parkir klo perlu 200.000 tiap sekali parkir
Balas   • Laporkan
balonbalon
16/12/2010
Yang dibatasi yang dikota-kota besar yang udah kebanyakan kendaraan pribadi aja duunk Oom...... Yang kota2 kecil or pedesaan jangan dibatasi.. kcian mereka gak bisa menikmati kendaraan... Mobil pick up mereka yg membawa cabe, beras, dll platnya hitam..
Balas   • Laporkan
klalatklelet
16/12/2010
mudah utk angkutan umum merubah ukuran tanki bensin, shg sekaligus merangkap penjaja bensin eceran. dan memang akan memberatkan ukm yg selama ini menggunakan bbm subsidi. pertamina mau bangkrut silahkan saja..
Balas   • Laporkan
manajemenconflik
16/12/2010
pengamat telah berkata : naikkan aja premium tambah gopek, gak ribet.....
Balas   • Laporkan
radenn
16/12/2010
bener bgt tuch pak bakalan timbul masalah pada masyarakat kecil..orang DPR mah enak gaji nya besar2 mau beli BBM yang mahal sekali pun pasti bisa....tolong di pikirkan lagi positif negatifnya......
Balas   • Laporkan
andres_yohanes | 17/12/2010 | Laporkan
iya betul,bro , mereka tidur saat rapat pun tetap dibayar


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id