BISNIS

Pabrik Tutup, Ekonomi Jepang Terancam?

Tutupnya pabrik-pabrik di Jepang akan mengganggu rantai pasokan global.

ddd
Selasa, 15 Maret 2011, 12:25
Tsunami hantam Jepang
Tsunami hantam Jepang (AP Photo/NHK TV)

VIVAnews  - Sejumlah ekonom menyatakan Jepang saat ini menanggung risiko serius setelah gempa dan tsunami menghantam negeri itu, Jumat 11 Maret 2011. Namun mereka yakin, Jepang bisa pulih dengan cepat.

Gempa bumi dan tsunami menewaskan hampir 2.000 orang, merusakkan reaktor nuklir, dan menghancurkan perekonomian di sana. Lebih setengah juta orang tinggal di penampungan.

Sebagian besar basis industri Jepang memang terhindar dari bencana terburuk. Hanya sedikit pabrik tersapu tsunami. Kalaupun mereka menutup pabrik, itu karena krisis listrik.

Perusahaan eksportir Jepang, termasuk tiga mobil terbesar, Toyota Motor Corporations, Honda Motor Co. Ltd., dan Nissan Motor Co. Ltd., serta raksasa elektronik Sony Corp., menutup sebagian besar pabrik mereka di Jepang sejak Senin, akibat kelangkaan listrik. Belum dipastikan kapan perusahaan-perusahaan ini akan buka kembali.

"Peristiwa di Jepang ini adalah tragedi kemanusiaan. Tapi pasar juga harus mempertimbangkan dampak ekonominya," kata ekonom dari Capital Economics dalam laporan hariannya, seperti dikutip CNN, Selasa 15 Maret 2011.

Lalu, seberapa besar kehancuran ekonomi Jepang? Masaaki Kanno, analis JP Morgan berkantor di Tokyo mengatakan gempa menjadi pukulan berat bagi bisnis di Jepang, terutama bagi daerah yang terpukul paling parah.

“Masih membutuhkan waktu panjang agar sistem transportasi dan distribusi dapat bekerja normal,” kata Kanno, seperti dikutip International Herald Tribune.

Janet Hunter, dosen Perekonomian Jepang di London School of Economics, mengatakan hampir semua infrastruktur berada di jalur tsunami, harus dibangun lagi dari nol termasuk jembatan, jalan, dan rel kereta api.

Gangguan apapun pada sektor manufaktur Jepang pasti akan berimbas pada perekonomian negara itu, yang mengalami stagnasi dua dekade terakhir. Perusahaan kargo melaporkan pelabuhan utama Jepang tutup, meskipun penutupan itu lebih sebagai tindakan pencegahan.

Selama ini, sejumlah pelabuhan utama itu, yang sebagian besar berada di selatan Tokyo, memainkan peran penting mendorong ekspor Jepang.

David Rea, ekonom Jepang yang bekerja untuk Capital Economics, memperkirakan perekonomian Jepang menyusut hingga 95 persen pada kuartal pertama tahun ini. "Meskipun gempa datang hanya pada tiga minggu sisa kuartal pertama," katanya, seperti dilansir CNN.

Dampak global

Sebagian barang asal Jepang bernilai tinggi, seperi perangkat komputer, mobil, suku cadang, dengan sumber terbatas di dunia.  "Kalau pembangkit listrik tenaga nuklir di sana harus mati terlalu lama, ini bisa mengganggu rantai pasokan," kata Rea.

Pabrik-pabrik di China, Eropa, dan Amerika Utara, akan mendapatkan pengalihan order. Namun, Rea yakin, pabrik-pabrik itu tak mampu memenuhi permintaan global.

Kepala ekonom Moody's Analytics, Mark Zandi, percaya krisis ini tidak akan berlangsung lama. Menurut dia, perusahaan-perusahaan Jepang telah memiliki pabrik di luar negeri yang bisa mensuplai pasokan global, saat pabrik-pabrik di Jepang berhenti operasi.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com