BISNIS

Cara Kerja Alat Pendeteksi Pengendalian BBM

Penggunaan RFID bertujuan untuk membatasi konsumsi BBM bersubsidi.
Kamis, 25 Agustus 2011
Oleh : Antique, Iwan Kurniawan
Premium habis di sebuah SPBU.

VIVAnews - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hari ini telah melakukan uji coba alat pendeteksi pengendalian bahan bakar minyak (BBM) melalui Radio Frequency Identification (RFID).

Penggunaan RFID bertujuan untuk membatasi konsumsi BBM bersubsidi, sehingga subsidi dapat tepat sasaran dan volume.

Lalau, bagaimana cara kerja RFID?

Tender RFID dimenangi oleh konsorsium L2M. Staf konsorsium L2M, Dimas Fajar, menjelaskan ada tiga perangkat dalam sistem RFID, yaitu sistem notifikasi, transaksi, dan kontrol. Ketiga alat tersebut berjalan secara bersamaan.

Sistem notifikasi diletakkan di pintu masuk stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tersebut. Sistem notifikasi terdiri atas layar LED dan antena sensor.

Tiang sensor tersebut akan mendeteksi stiker integrated circuit (IC) yang dipasang di kaca depan mobil. Nantinya, di LED akan terpampang data kendaraan dan jatah BBM subsidi mobil tersebut.

"Stiker IC dipasang di kaca mobil depan bagian tengah, tidak boleh terhalang oleh kaca film," kata Dimas Fajar di Jakarta, Kamis 25 Agustus 2011.

Alat kedua adalah sistem operasi yang tertempel di dispenser SPBU tersebut. Sistem operasi tersebut dikendalikan oleh operator SPBU yang mengisi BBM kepada mobil tersebut. Dengan menggunakan sistem operasi tersebut, maka BBM yang dikeluarkan oleh dispenser tidak akan melebihi dari kuota BBM yang telah ditetapkan.

"Sistem operasi terintegrasi dengan dispenser, sehingga kalau mengisi BBM melebihi kuota maka transaksi tidak akan terjadi," katanya.

Terakhir adalah sistem kontrol yang diletakkan di kantor SPBU. Data-data kendaraan dan kuota BBM dimasukkan melalui sistem kontrol yang terintegrasi dengan sistem notifikasi dan sistem transaksi.

"Mekanisme itu sudah sesuai dengan kebijakan pemerintah. Ada identifikasi saat memasuki SPBU, jika kendaraan teregistrasi maka kendaraan tersebut dapat jatah sesuai kebijakan pemerintah," katanya.

Meski demikian, menurut Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Evita Legowo, implementasi alat pendeteksi pengendalian BBM melalui RFID itu telah ketinggalan 30 tahun dari Singapura.

"Tadi, saya diberi tahu bahwa di Singapura sudah menggunakan RFID tiga puluh tahun yang lalu," kata Evita.

Evita menjelaskan, selain Singapura, negara-negara lainnya seperti Meksiko, Amerika Serikat, Finlandia, dan Kanada telah menggunakan teknologi RFID, walaupun tujuan penggunaannya di mobil berbeda-beda.

Walaupun terlambat, menurut Evita, Indonesia tidak perlu malu dan berkecil hati. Tujuan utama adalah agar BBM subsidi dapat tepat sasaran dan volume. (art)

TERKAIT
TERPOPULER