BISNIS

Panen Berkurang, Harga Beras Merangkak Naik

Berkurangnya panen di daerah, menimbulkan turunnya produksi beras.
Jum'at, 30 September 2011
Oleh : Antique, Sukirno
Stok beras di gudang penyimpanan Bulog

VIVAnews - Kementerian Perdagangan mengungkapkan, kenaikan harga beras yang mulai terjadi saat ini dipicu berkurangnya panen di daerah. Kondisi itu menimbulkan turunnya produksi.

"Hanya ada beberapa daerah yang masih produksi, tapi sifatnya sporadis," kata Direktur Perdagangan Dalam negeri, Kementerian Perdagangan, Gunaryo, di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat 30 September 2011.

Selain itu, Gunaryo melanjutkan, saat kondisi pasokan terbatas, tingginya permintaan Bulog dan pelaku usaha ikut mendorong tingginya harga. Bulog sesuai penugasan, harus menyerap beras dan menambah stok. "Mereka berlomba-lomba mendapatkan beras, sehingga harga di tingkat konsumen naik," ungkapnya.

Sebagai informasi, hasil produksi panen raya padi hingga Mei lalu diperkirakan mencapai 60 persen dari total target produksi sebesar 70,6 juta ton gabah kering giling. Pada akhir tahun, yang terjadi hanya ada panen gadu (panen pada musim kering), sehingga hasilnya tidak cukup banyak.

Gunaryo juga menegaskan bahwa kenaikan harga itu tidak disebabkan oleh pembatalan penjualan beras Thailand. "Saya belum melihat itu akan berpengaruh," kata dia.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, hingga saat ini, harga beras medium rata-rata nasional pada September sebesar Rp7.472 per kilogram. Hanya terjadi kenaikan 0,69 persen dibandingkan bulan lalu.

Namun, di beberapa kota terjadi kenaikan harga beras yang cukup tinggi, misalnya di Surabaya. Harga beras pada September mencapai Rp8.201 per kilogram. Harga itu naik 3,66 persen dibandingkan bulan lalu.

Sementara itu, kenaikan harga beras di Yogyakarta mencapai 5,33 persen. Namun, besaran harga beras di daerah tersebut hanya Rp7.498 per kilogram.

Pemerintah, Gunaryo melanjutkan, juga terus memantau harga beras yang mulai merangkak naik, misalnya dengan cara Bulog harus menjalankan operasi pasar.

"Dengan stok yang sudah baik, bisa langsung dialokasikan ke daerah-daerah yang gudangnya kosong. Harapannya, kalau terjadi kenaikan harga perlahan, segera dilaporkan pemerintah daerah dan langsung dilakukan operasi pasar," tuturnya.

Hingga dua pekan lalu, kata Gunaryo, operasi pasar yang sudah digelontorkan sebanyak 80 ribu ton dan sebanyak 50 persen beras medium dan sebagian lagi beras premium.

"Jadi, sekarang operasi pasar tidak hanya bisa mengandalkan beras medium, sebab di beberapa lokasi masyarakat kekurangan beras premium," ungkap Gunaryo. (art)

TERKAIT
TERPOPULER