BISNIS

Indonesia Produsen Rotan Terbesar Dunia

Luas areal hutan rotan Indonesia tinggal 1,34 juta ha yang tersebar di berbagai wilayah.

ddd
Rabu, 9 November 2011, 10:15
Pekerja menata rotan yang tengah dijemur di Desa Talagawaru, Lombok Barat, NTB
Pekerja menata rotan yang tengah dijemur di Desa Talagawaru, Lombok Barat, NTB (ANTARA/Budi Afandi)

VIVAnews - Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) menyatakan Indonesia merupakan negara penghasil rotan terbesar di dunia.

"Sekitar 85 persen bahan baku rotan dihasilkan oleh Indonesia," kata  Ketua Umum AMKRI, M Hatta Sinatra, di Jakarta. Rabu 9 November 2011.

AMKRI merilis, pada 2010, luas areal hutan rotan Indonesia tinggal 1,34 juta hektare dengan jatah tebang tahunan (annual allowable cut/AAC) lestari sebanyak 210.064 ton rotan kering per tahun. Hutan ini tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara Barat, Maluku, dan Papua.  Sementara itu, luas rotan budidaya hanya 48.000 hektare.

Bila eksploitasi hanya boleh 60 persen AAC, maka ketersediaan bahan baku rotan di dalam negeri hanya sekitar 126.000 ton rotan kering. Rotan itu sebagian diekspor dalam bentuk asalan dan rotan setengah jadi, seperti rotan poles, core, fitrit, dan kulit.

Ekspor bahan baku rotan pada 2010 mencapai 32.845 ton dengan nilai US$32,35 juta atau sekitar Rp290 miliar.

Data ini sedikit berbeda dengan Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia (APRI). Asosiasi yang menolak kebijakan penutupan ekspor rotan ini menyatakan  potensi produksi rotan Indonesia mencapai 696.000 ton per tahun. Jika ekspor rotan ditutup, akan menghilangkan potensi ekspor US$1,4 miliar dan mematikan lima juta pemungut dan pengusaha rotan setengah jadi.

Pada kenyataannya, potensi rotan di hutan sudah semakin menurun. Rotan di hutan sulit dijangkau, sehingga penghasil bahan baku pun sulit mendapatkan rotan. Akibatnya, harga rotan menjadi mahal.

Rotan berkualitas baik umumnya ditujukan untuk pasar luar negeri, sedangkan industri lokal hanya memperoleh rotan dengan kualitas rendah dengan harga yang juga mahal.

AMKRI menduga, telah terjadi penyelundupan bahan baku rotan secara besar-besaran, sehingga data-data ini hanya mencerminkan lima persen ekspor rotan Indonesia, sedangkan 95 persen sisanya diekspor tanpa tercatat. "Penggelapan rotan ini marak terjadi di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera," katanya.

Menurut data AMKRI, pada 1986, ketika ekspor rotan dilarang, maka industri pengolahan rotan nasional berkembang pesat dan ekspornya meningkat hingga US$370 juta pada 2005. Kemudian, akibat kebijakan buka-tutup ekspor rotan, maka industri dalam negeri terpuruk dan ekspornya turun tinggal US$138 juta pada 2010.

Tak cuma itu, pada semester pertama tahun ini, ekspor industri pengolahan tinggal US$57 juta dengan kapasitas terpasang industri di bawah 30 persen.

Badan Pusat Statistik juga mencatat penurunan kinerja ekspor industri mebel dan kerajinan rotan. Dimulai pada 2006, kinerja sektor ini mencapai US$344 juta, kemudian pada 2007 turun menjadi US$319 juta. Selanjutnya, pada 2008 turun lagi menjadi US$239 juta dan pada 2009 serta 2010 masing-masing turun menjadi US$168 juta dan US$138 juta. Sementara itu, pada Juni 2011, ekspor turun menjadi US$57 juta. (art)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
andhar
09/11/2011
meubel bahan rotan sangat eksotis... kalau rotan di hutan semakin menipis, apa tidak bisa dilakukan budi daya hutan industri rotan...?
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id