BISNIS

Mogok Kerja Karyawan Newmont Berlanjut

Aksi yang sudah berlangsung sejak Selasa itu menuntut upah lembur yang belum dibayar.
Kamis, 17 November 2011
Oleh : Hadi Suprapto
Seorang pekerja Newmont di lapangan tembaga dan emas Batu Hijau, Sumbawa Barat

VIVAnews - Aksi mogok kerja karyawan PT Newmont Nusa Tenggara masih berlangsung. Sekitar 200 karyawan melanjutkan aksi spontanitas dengan menggelar unjuk rasa menuntut kekurangan pembayaran upah lembur.

Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Newmont, Muhammad Syahrir, yang dihubungi dari Mataram mengatakan bahwa aksi spontanitas yang sejak kemarin masih berlangsung. Meski demikian, sebagian pekerja sudah ada yang mulai beraktivitas seperti biasa.

"Ini merupakan mogok spontan di mana masing-masing menyampaikan aspirasi menuntut upah lembur," kata Syahrir, Kamis 17 November 2011.

Syahrir mengaku sudah berkomitmen untuk menunggu penyelesaian dari pihak manajemen guna menyelesaikan masalah tersebut. Apalagi, karyawan masih mempunyai waktu dua pekan untuk memperoleh penyelesaian upah lembur tersebut.

Dia pun telah berupaya menghentikan aksi mogok kerja karyawan tersebut. "Kami sudah komitmen agar 2x24 jam aksi spontanitas ini sudah selesai, sehingga karyawan bisa dapat bekerja kembali seperti biasa," ujarnya. Sayangnya, pagi ini aksi masih berlangsung.

Aksi mogok kerja karyawan Newmont itu berlangsung sejak Selasa pagi. Sebanyak 150 orang berkumpul di Town Site Newmont guna menyampaikan aspirasi upah lembur yang belum dibayarkan. Aksi itu berlanjut hingga Rabu, di mana jumlah karyawan yang mogok semakin bertambah.

Kepala Departemen Komunikasi Newmont, Ruby Purnomo, membenarkan ada 400 karyawan Newmont Nusa Tenggara yang mogok kerja. Mogok kerja karyawan itu sempat mengganggu operasi tambang emas dan Batu Hijau di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

"Manajemen Newmont dan Serikat Pekerja, bersama perwakilan pemerintah akan tetap melanjutkan komunikasi dengan karyawan yang mogok untuk menyelesaikan masalah ini," kata Ruby dalam pesan singkatnya kepada wartawan di Mataram. (Laporan: Edy Gustan l Mataram, art)

TERKAIT
TERPOPULER