BISNIS

Bisnis Sewa Jet Pribadi RI Kalahkan AS

Indonesia dianggap turut memimpin pasar penyewaan pesawat jet pribadi
Jum'at, 17 Februari 2012
Oleh : Syahid Latif
Bisnis sewa jet pribadi di Indonesia memiliki prospek cerah

VIVAnews - Booming sektor bisnis di tanah air ternyata telah menumbuhkan industri penyewaan pesawat jet pribadi. Bahkan rata-rata jam terbang di Indonesia dua kali lebih besar dibandingkan penyewaan pesawat pribadi di Amerika Serikat (AS). 

"Pesawat pribadi di AS rata-rata terbang 30-50 jam per bulan. Kami rata-rata 75 jam per bulan, diatas rata-rata industri," ujar CEO Enggang Air Service, donnie Armand seperti dikutip VIVAnews dari CNBC, Kamis, 16 Februari 2012. 

Dengan pertumbuhan yang signifikan tersebut, tak heran banyak produsen pesawat jet internasional yang menganggap pasar Asia Tenggara sebagai target terbaru mereka. Selain Asia Tenggara, produsen pesawat juga mengincar pasar India dan China. 

Regional Sales Director Southeast Asia dari Hawker Beechcraft, Pasha Saleh, memperkirakan Indonesia merupakan pasar paling kuat di kawasan Asia Tenggara. "Ini sudah berlangsung lebih dari 24 bulan lalu dan akan berlanjut pada 2012. Saya pikir Indonesia akan terus memimpin di kawasan ini," katanya. 

Vice President for Marketing and Sales Asia Pasifik dari Embraer, produsen pesawat Brasil, Jose Costas, mengatakan seiring bertambahnya kekayaan Indonesia, topografi dari negara ini merupakn faktor berkembangnya bisnis pesawat jet pribadi. 

"Dengan lebih dari 17.000 pulau yang tersebar di 3.000 mile, perusahaan membutuhkan transportasi untuk mengantar pegawai dari kantor pusat ke lokasi tambang," Costac menyontohkan. 

Untuk saat ini, eksekutif dari perusahaan pertambangan, minyak dan gas, serta pertanian merupakan pengguna terbanyak pesawat jet pribadi. 

"Permintaannya sangat besar dan sampai kini maskapai penerbangan domestik tak bisa menjangkau daerah terpencil," kata Costas. 

Embraer, yang merupakan produsen pesawat terbesar keempat dunia, telah menjual sedikitnya 8 pesawat eksekutif dengan harga berkisar US$9,5 juta hingga US$54 juta.

Asia, secara keseluruhan, masih memiliki pangsa pasar pesawat jet pribadi yang sangat kecil dibandingkan belahan bumi yang lain. Namun, kawasna ini memiliki 16 persen dari total pesanan pesawat dalam 10 tahun mendatang. (ren)


 

TERKAIT
TERPOPULER