BISNIS

Saran Bank Dunia Benahi Bantuan Tunai

Bank Dunia melihat penyaluran BLT seringkali menjadi komoditas politik.

ddd
Rabu, 4 April 2012, 16:06
Bantuan Langsung Tunai Tahap II
Bantuan Langsung Tunai Tahap II (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Ekonom Senior Bank Dunia di Indonesia, Vivi Alatas, menilai pilihan pemerintah menjalankan program bantuan langsung tunai (BLT) dan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) merupakan yang terbaik dibandingkan program lain.

Namun diakui, masih banyak masalah yang harus dibenahi pemerintah agar penyaluran BLT bisa tepat sasaran dan tujuan. Keprihatian lain yang ditangkap oleh Bank Dunia adalah penyaluran BLT seringkali digunakan sebagai komoditas politik.

"Indonesia punya mekanisme penyesuaian diri yang baik, misalnya soal drop out dari sekolah, rendahnya gizi ibu hamil. BLT jumlahnya tepat, bisa dipakai sebagai mekanisme pada waktu yang tepat," ungkap Vivi di Jakarta, Selasa, 4 April 2012.

Vivi mengatakan, jika dibandingkan dengan program lain seperti beras untuk rakyat miskin (Raskin) dan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), program itu sebetulnya lebih baik. Namun, pemerintah memang perlu memperbaiki penyaluran dana BLT yang seringkali digunakan untuk membeli rokok atau konsumsi tak penting lainnya.

Tak hanya itu, pemerintah juga seharusnya memiliki protokol untuk memutuskan kapan waktu untuk mengeluarkan dan menghentikan penyaluran dana BLT. Ketentuan itu diharapkan bisa mengurangi potensi penggunaan BLT sebagai komoditas politik sebuah partai politik maupun calon presiden.

"Kalau pengalaman 2005 dan 2008, kami lakukan kajian menyeluruh. Pertama, perlu cara yang langsung, lalu terarah, dengan melihat uang itu diberikan kepada orang yang tepat," tegas Vivi.

Walau memberikan apresiasi pada program BLT, Bank Dunia justru khawatir penyaluran BLT bakal memicu sifat malas bagi masyarakat Indonesia. Sebab, lembaganya melihat adanya indikasi BLT dapat menurunkan kinerja masyarakat.

"BLT itu cuma Rp300 ribu per 3 bulan, itu bukan sebuah alasan bagi masyarakat untuk bermalas-malasan, yang dibutuhkan Indonesia adalah sistem berkelanjutan," ujarnya.

Dari perhitungan Bank Dunia, dana BLT sebesar Rp100 ribu mampu meredam  inflasi setidaknya 15 persen untuk jangka waktu sebulan. Namun, jika seluruh dana BLT disalurkan selama kurun waktu yang dialokasikan pemerintah, BLT  dapat meredam inflasi sebesar tiga persen.

Sebagai informasi, Badan Anggaran (Banggar) DPR sebelumnya menetapkan  BLSM sebesar Rp17,08 triliun yang akan diberikan kepada 18,5 juta rumah tangga sasaran.

"Pembelajaran tahun lalu, kalau BBM naik Rp1.500, dikasih BLT Rp100 ribu, itu bisa meredam inflasi. BLT dan dana infrastruktur sama-sama dibutuhkan. Kalau dilihat, dari pengalihan subsidi BBM itu bisa menghemat 50 persen untuk BLT, sisanya untuk infrastruktur," ujarnya. (art)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id