BISNIS

Pembatasan BBM, Penjual Mobil Bekas Menjerit

"Harga yang kita jual sama dengan harga saat mobil dibeli."

ddd
Sabtu, 28 April 2012, 05:53
Bursa mobil bekas
Bursa mobil bekas (VIVAnews/Sandy Adam Mahaputra)

VIVAnews - Meski pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga kini belum pasti, penjualan mobil bekas justru telah menerima dampaknya. Sedikitnya, harga mobil bekas yang masuk larangan pengonsumsi BBM murah itu telah melorot Rp2 juta hingga 3 juta per unit.

"Konsumen saat ini sangat selektif dalam membeli mobil,” ungkap Tommi, pemilik Show Room Mobil, Sun Motor di Jalan Ring Road Selatan Yogyakarta, Jumat.

Tommi mengungkapkan, saat ini hampir seluruh show room penjual mobil bekas dengan kapasitas mesin diatas 1.500 mengalami kerugian.

“Jika beruntung, harga yang kita jual sama dengan harga saat mobil dibeli oleh show room. Impas saja sudah untung kita,” keluhnya.

Sebelum munculnya wacana pembatasan BBM, para penjual mobil bekas di Yogyakarta bisa menjual sedikit nya 4-5 unit dalam sepekan. Namun, saat ini, mereka paling banter bisa menjual  2-3 unit.

Keputusan yang plin-plan dari pemerintah juga diakui para pemilik show room mobil bekas telah mengganggu bisnis mereka. Kini para penjual sulit memprediksi harga mobil bekas untuk satu hingga dua bulan mendatang.

“Para konsumen sudah banyak yang bertanya jika membeli mobil apakah kedepannya masih boleh menggunakan BBM premium atau harus menggunakan BBM pertamax,” ungkap Sidiq, pemilik Show Room Mobil Andri Motor yang berlokasi di ruas Yogyakarta-Wates.

Sidiq menyatakan, konsumen saat ini mulai banyak yang melirik mobil bekas berkapasitas mesin di bawah 1.500 cc. Harapannya, mereka masih bisa mengonsumsi BBM dengan harga lebih murah.

Kondisi ini pun telah membuat harga mobil bekas ber-cc rendah menunjukkan tren meningkat. Sebagai informasi, mobil Toyota Stralet tahun 1992 dengan kapasitas mesin 1.000 CC, telah naik sekitar Rp10 juta menjadi diatas Rp50 juta.

Kendati terkena imbas ketidakpastian pembatasan BBM, para pemilik Show Room di Yogyakarta mengaku cukup tertolong oleh banyaknya klub mobil berkapasitas mesin di atas 1.500 cc.  (umi)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
rdnmz
06/05/2012
kalo kuat beli mobil ya pasti nya orang mampu(tidak miskin) walaupun mobil bekas.. jadi kalo seandainya ada kebijakan membatasi BB.. yang yang menjerit bukan orang mampu (tidak miskin) atau BOS MOBKAS...
Balas   • Laporkan
yuyusyusup
29/04/2012
boro-boro beli mobkas, beras aja udah mahal...
Balas   • Laporkan
onizuka.bwi
29/04/2012
regulasi yg tepat mang jd pe er bagi pembuat2 regulator. sampai saat ni mang nyatanya rakyat cilik yang menjerit
Balas   • Laporkan
bangarso
28/04/2012
Harusnya yang menjerit para pejabat, mereka harus beli pertamax dan tidak ada subsidi BBM dari pemerintah. Bos Mobkas kalo rugi yang kena imbas pertama juga orang2 kecil yang menggantungkan nafkah mereka ke pengusaha kayak bos mobkas.
Balas   • Laporkan
igur
28/04/2012
mendingan bos mobkas yang menjerit dari pada wong cilik yang menjerit gak bisa beli beras
Balas   • Laporkan
bambanggentolet | 28/04/2012 | Laporkan
Hubungannya apa wong cilik gak bisa beli beras dgn harga mobkas yg jatuh??? komen kok gak dilihat dulu konteksnya bro. Jadi keliatan g@bl@knya.
rakyat1
28/04/2012
setuju mas komentar aneh....lebih baik penjual mobil yang menjerit karna aturan pembatasan pemakain BBM dan aturan DP mobil/motor naik dari pada rakyat yang menjerit...
Balas   • Laporkan
aneh
28/04/2012
Lebih baik mereka-mereka yang menjerit daripada rakyat kecil yang menjerit
Balas   • Laporkan
kapolsek
28/04/2012
Hal ini sangat baik, bila masyarakat saat ini mulai selektif dalam membeli mobil. Tentu saja kesadaran memilih kendaraan yg hemat BBM sehingga diharapkan subsidi pemerintah dpt lbh tepat sasaran.
Balas   • Laporkan
anakpesat
28/04/2012
Kasian ya penjual mokas.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id