TUTUP
TUTUP
BISNIS

DP Naik, Pembeli Rumah Mewah Berkurang?

BNI mencatat penurunan penyaluran KPR untuk rumah di bawah Rp1 miliar.
DP Naik, Pembeli Rumah Mewah Berkurang?
Rumah Mewah Anang Hermansyah - Ashanty di Cinere (VIVAnews/ Muhamad Solihin)

VIVAnews - Kebijakan penentuan batas minimal uang muka atau down payment (DP) kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar 30 persen, diduga telah berdampak pada turunnya penjualan rumah di kisaran Rp750 juta hingga Rp1 miliar. 

Kondisi itu di antaranya terlihat dari data PT Bank Negara Indonesia Tbk yang mencatat penyaluran KPR sepanjang Juli 2012 turun 30 persen dibandingkan bulan sebelumnya. 

"KPR Juli sekitar Rp800 miliar, padahal Juni Rp 1 triliun. Agustus kami belum tahu, tapi agak realistis lah," kata Vice President Consumer and Retail Banking BNI, Indrastomo Nugroho, di Gedung BNI 46, Jakarta, Rabu 8 Agustus 2012.

Menurut Indrastomo, penurunan penyaluran KPR paling signifikan terjadi pada rumah dengan kisaran harga di bawah Rp1 miliar. "Paling banyak turun di sekitar harga Rp750 juta. Di harga-harga itulah yang banyak kena loan to value," ujarnya.

Kendati mencatat penurunan, Indrastomo mengakui, pihaknya masih mengkaji secara pasti penyebab turunnya penyaluran KPR tersebut. Sebab, selain munculnya aturan batas minimal DP, tren penyaluran kredit pada Juli memang selalu menurun. 

Kalangan perbankan diperkirakan baru bisa memastikan dampak kebijakan DP terhadap penyaluran kredit pada September hingga Oktober mendatang. 

Indrastomo juga mengungkapkan, perusahaan mampu menekan rasio kredit bermasalah (NPL) di kisaran 1 persen. Hingga Juli 2012, BNI telah menyalurkan kredit sekitar Rp22 triliun, atau naik dari posisi Desember 2011 sebesar Rp18 triliun.

"Paling besar tetap yang di bawah Rp1 miliar, sekitar 60 hingga 70 persen. Sisanya di atas Rp1 miliar," jelasnya.

Meski diwarnai kekhawatiran dampak kebijakan batas minimal DP, perseroan tetap optimistis mampu menyalurkan kredit pemilikan rumah sesuai dengan target yang telah ditetapkan. "Sampai akhir tahun, sekitar 30 persen atau Rp24 triliun," ungkapnya (art)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP