BISNIS

Investasi Properti di Indonesia Menjanjikan

Panangian: "Di Indonesia, harga properti paling murah dengan imbal hasil tinggi."

ddd
Rabu, 11 Maret 2009, 20:42
Pembangunan proyek properti
Pembangunan proyek properti (Antara)

VIVAnews - Investasi di bisnis properti di Indonesia masih menjanjikan di tengah krisis seperti saat ini. Pasalnya, investasi properti di Indonesia memberikan keuntungan dibanding jenis investasi lainnya.
 
Menurut pengamat properti Panangian Simanungkalit,  properti di Indonesia mengalami kemajuan pesat dalam waktu 10 tahun terakhir.  "Di Indonesia, properti tidak bisa dibandingkan dengan investasi lain, karena harga properti tidak pernah turun, sehingga properti di sini low risk hi-return," katanya pada Seminar Smart Investment in Financial Crisis di Kantor Marketing Office Epicentrum Kuningan, Rabu, 11 Maret 2009.
 
Dia menambahkan, properti sebagai investasi pada saat harga-harga lain tertekan seperti yang terjadi saat ini. "Jadi, sekarang adalah waktu tepat berinvestasi properti," ujar Panangian.

Pada prinsipnya, kata Panangian, investasi properti itu membeli pada saat harga rendah dan menjual saat harga tinggi. "Sekarang secara absolut harga turun, itu waktu yang tepat beli properti," tuturnya.
 
Dia juga mengakui, harga investasi properti di Indonesia, memiliki harga properti yang paling murah dengan imbal hasil yang paling besar dibandingkan negara lainnya di Asia.
 
Dari hasil rilis Globalguide 2009, diketahui harga properti Indonesia termurah sebesar 1,354 juta/meter persegi, Malaysia 1,366 juta/meter persegi, Thailand 2,492 juta/meter persegi, China 2,697 juta/meter persegi , Singapura 10,723juta/meter persegi, Jepang 15,851 juta/meter persegi, dan Hongkong 16,052 juta/meter persegi.
 
Harga imbal hasil sewa (rental yields) properti di pusat kota, memasukkan Indonesia sebagai negara yang memberikan imbal termahal di Asia. Sedangkan imbal hasil (yield) Indonesia 11,3 persen, Malaysia 9,2 persen, Thailand 8,0 persen, Jepang 4,9 persen, China 4,4 persen, Singapura 4,0 persen, dan Hongkong 3,7 persen.
 
Investasi properti, kata Panangian, memiliki resiko bisnis, suku bunga dan inflasi rendah. Sedangkan resiko likuiditas investasi properti moderat. Dibanding investasi lain, semisal obligasi (bond) yang memiliki resiko bisnis tinggi, suku bunga dan likuiditas tinggi, serta resiko akibat inflasi moderat.
 
Investasi lainnya, dia menambahkan, deposito berjangka sangat terpengaruh inflasi, dengan resiko bisnis, suku bunga serta likuditas rendah. Adapun saham memiliki resiko bisnis, suku bunga dan inflasi tinggi dan resiko likuiditas rendah.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id