BISNIS

Ongkos Mahal Angkutan Laut Bikin Produk Lokal Susah Bersaing

Untuk 16 peti kemas jeruk dari Sulawesi saja butuh belasan juta rupiah

ddd
Rabu, 27 Maret 2013, 00:32
Sebuah alat pengangkut peti kemas saat menyusun sejumlah peti kemas di kawasan Jakarta Utara.
Sebuah alat pengangkut peti kemas saat menyusun sejumlah peti kemas di kawasan Jakarta Utara. (VIVAnews/Fernando Randy)

VIVAnews - Pengamat transportasi, Yamin Jinca, mencermati bahwa ongkos transportasi laut lebih mahal daripada harga transportasi darat. Dia mencontohkan biaya pengangkutan enam belas ton jeruk palopo dari Sulewesi Selatan, menghabiskan dana belasan juta. Dengan besarnya biaya transportasi itu, Yamin mengkhawatirkan produk lokal akan kalah bersaing dengan produk asing.

"Sebanyak 16 peti kemas jeurk dari Palopo ke Jakarta itu biayanya sepuluh juta sekian. Kalau kita hitung, nanti harga jualnya jatuhnya lebih mahal daripada China. Lama-lama produk kita tidak laku di negeri kita sendiri," ujar Yamin kepada VIVAnews, Selasa 26 Maret 2013.

Selain itu, Yamin mengeluhkan kapal-kapal Indonesia yang sudah berumur sangat tua. Akibatnya, beban yang dikeluarkan pengusaha juga tinggi karena ada biaya untuk pemeliharaan kapal. "Cost untuk pemeliharaannya tinggi sekali," kata Yamin.

Masalah permodalan yang berkaitan dengan investasi juga patut mendapat perhatian. Kendala tidak berhenti pada kapal semata, tapi juga berlanjut pada komponen biaya pelabuhan, biaya di laut, dan biaya BBM, serta waktu tunggu suatu kapal.

"Biaya tetap cukup tinggi karena diferensiasi. Waktu tunggunya yang terlalu lama juga mempengaruhi total cost," kata dia.

Selanjutnya, kondisi pelabuhan yang mengalami pendangkalan menyebabkan tidak semua kapal bisa merapat ke dermaga. Selain itu, biaya transportasi dengan kapal kecil berbeda dengan kapal yang besar.

"Akses laut kita banyak yang mengalami pendangkalan kolam dermaga dan itu bisa membatasi ruang gerak kapal. Lalu, ukuran kapal menentukan biaya kapal. Semakin kecil ukuran kapal pengangkut, semakin besar pula biaya yang dikeluarkan," ujar dia.

Masalah yang terakhir adalah kondisi akses darat. Ada banyak peti kemas atau kontainer yang menumpuk di pelabuhan, padahal kontainer tersebut harus disalurkan ke industri dan konsumen. Terhambatnya proses distribusi itu disebabkan adanya kondisi jalan yang bermasalah.

"Kontainer menumpuk di pelabuhan, padahal harus disalurkan. Ini karena akses darat ke pelabuhan yang bermasalah," kata dia. (umi)

 

 



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com