BISNIS

Buruh Ancam Mogok Nasional

Mereka menuntut penghapusan pekerja alih daya.
Rabu, 10 April 2013
Oleh : Hadi SupraptoTudji Martudji (Surabaya)
Ribuan buruh melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Menko Kesra di Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta.

VIVAnews - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Andi Gani  Nenawea mengancam akan melakukan aksi mogok nasional. Ini karena banyaknya janji pemerintah yang belum ditepati.

"Pemerintah jangan main-main dengan buruh," katanya di depan Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu 10 April 2013.

Ia mengklaim akan mengerahkan jutaan buruh pada 16 Agustus mendatang untuk menggelar mogok nasional, bila kebijakan pemerintah belum menepati  janji, khususnya soal upah. "Hingga hari ini masih banyak penundaan dengan berbagai alasan. Ini merugikan para buruh," katanya.

Selain itu, dalam aksinya, mereka juga menuntut penghapusan pekerja alih daya di berbagai perusahaan. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No 19 tahun 2012 dianggap tidak adil. Keputusan ini hanya menghapus tenaga alih daya di beberapa jenis pekerjaan.

Ia juga menuntut Menteri Keuangan melihat kembalai kebijakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang membebani buruh. "Kami minta Menteri Keuangan segera merevisi kebijakan premi iuran dari Rp22.000 menjadi Rp13.000," katanya.

Minta Soekarwo Turun

Sementara itu dari Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur, ribuan buruh juga kembali turun ke jalan. Mereka mengepung Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya.

Mereka yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Jatim menuntut Gubernur Jawa Timur Soekarwo segera turun dari jabatannya, karena tidak segera merekomondasi Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota.

Mereka datang dengan long march dari Jalan Basuki Rahmat menuju Grahadi. Aparat kepolisian dari Polrestabes Surabaya yang dilengkapi senjata lengkap mengawal ketat aksi para buruh ini.

"Kami di sini kembali menuntut gubernur untuk menetapkan upah sektoral yang sudah ditandatangai wali kota dan bupati, namun Gubernur belum merekomondasi kenaikan," kata salah satu orator.

Di depan Tunjungan Plaza, Jalan Basuki Rahmat, mereka sempat berhenti sambil terus berorasi. "Kami di sini tidak untuk merusak suasana APEC. Hanya meminta kenaikan upah sektoral," ujarnya.

Dari arah belakang, dua unit mobil water cannon dan ratusan polisi mengiringi perjalanan para buruh. (asp)

Laporan Eka Permadi

TERKAIT
TERPOPULER