BISNIS

Buruh Ancam Mogok Nasional

Mereka menuntut penghapusan pekerja alih daya.

ddd
Rabu, 10 April 2013, 16:52
Ribuan buruh melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Menko Kesra di Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta.
Ribuan buruh melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Menko Kesra di Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta. (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)

VIVAnews - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Andi Gani  Nenawea mengancam akan melakukan aksi mogok nasional. Ini karena banyaknya janji pemerintah yang belum ditepati.

"Pemerintah jangan main-main dengan buruh," katanya di depan Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu 10 April 2013.

Ia mengklaim akan mengerahkan jutaan buruh pada 16 Agustus mendatang untuk menggelar mogok nasional, bila kebijakan pemerintah belum menepati  janji, khususnya soal upah. "Hingga hari ini masih banyak penundaan dengan berbagai alasan. Ini merugikan para buruh," katanya.

Selain itu, dalam aksinya, mereka juga menuntut penghapusan pekerja alih daya di berbagai perusahaan. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No 19 tahun 2012 dianggap tidak adil. Keputusan ini hanya menghapus tenaga alih daya di beberapa jenis pekerjaan.

Ia juga menuntut Menteri Keuangan melihat kembalai kebijakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang membebani buruh. "Kami minta Menteri Keuangan segera merevisi kebijakan premi iuran dari Rp22.000 menjadi Rp13.000," katanya.

Minta Soekarwo Turun

Sementara itu dari Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur, ribuan buruh juga kembali turun ke jalan. Mereka mengepung Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya.

Mereka yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Jatim menuntut Gubernur Jawa Timur Soekarwo segera turun dari jabatannya, karena tidak segera merekomondasi Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota.

Mereka datang dengan long march dari Jalan Basuki Rahmat menuju Grahadi. Aparat kepolisian dari Polrestabes Surabaya yang dilengkapi senjata lengkap mengawal ketat aksi para buruh ini.

"Kami di sini kembali menuntut gubernur untuk menetapkan upah sektoral yang sudah ditandatangai wali kota dan bupati, namun Gubernur belum merekomondasi kenaikan," kata salah satu orator.

Di depan Tunjungan Plaza, Jalan Basuki Rahmat, mereka sempat berhenti sambil terus berorasi. "Kami di sini tidak untuk merusak suasana APEC. Hanya meminta kenaikan upah sektoral," ujarnya.

Dari arah belakang, dua unit mobil water cannon dan ratusan polisi mengiringi perjalanan para buruh. (asp)

Laporan Eka Permadi



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
bodoamat
21/04/2013
kapan kerjanya klo demo mulu?? jadi pengusaha aja dah klo mo gaji gede,itu jg klo sukses..
Balas   • Laporkan
jontrek
12/04/2013
Kacian deh loe buruh..... tiap hari mau aja diajak demo ! memang gak capai? Kapan Negara akan maju kalau tiap hari demo terus ! Coba pada mikir apa akibatnya.....! Perusahaan pada kabur atau tutup akhirnya ya.. nganggur lagi!....!
Balas   • Laporkan
zuhar
10/04/2013
Sekali sekali perusahaan tutup serentak 1 bulan, sekarang mbok mikir pengusaha itu sudah pusing gimana memajukan usaha dapat untung terus bisa menaikan gaji karyawan, sbg karyawan jgn cuma enak sesaat tetapi ujung2nya perusaan kolap terus karyawan mau apa
Balas   • Laporkan
ironhide
10/04/2013
Suka suka kalian lah. Yang rugi ya kalian kalian juga, dan yang senyum orang orang dari negara lain.. !
Balas   • Laporkan
kerang_ijo
10/04/2013
harusnya para buruh ini membawa kaca setiap mereka pergi, agar mereka dpt bercermin...knp juga sampai alih daya digunakan?jgn bisa_nya cm teriak,kasar_nya kl tingkah laku buruh pade kek gitu, kapan neh negara mao maju, jaman_nya pake otak bung...
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com