BISNIS

Kerusuhan, Perusahaan Asing Hentikan Operasi di Mesir

Perusahaan itu General Motors, Electrolux, Toyota, dan Suzuki
Selasa, 20 Agustus 2013
Oleh : Iwan Kurniawan
Militer Mesir menyerbu Masjid di Kairo.
VIVAnews - Kerusuhan yang melanda seluruh Mesir dalam sepekan terakhir membuat berbagai perusahaan multinasional menghentikan operasi di negeri piramida ini. Ribuan pekerja terpaksa dirumahkan hingga keadaan Mesir kembali aman terkendali.

Dilansir CBSNews, Senin 19 Agustus 2013, beberapa perusahaan yang hengkang antara lain General Motors Co, Electrolux AB, Royal Dutch Shell Plc, Toyota Motor Corp, Suzuki Motor Corp, BASF SE. Mereka semua menutup fasilitas dan pabrik karena alasan keamanan.

"Ini merupakan langkah keamanan untuk menjamin pekerja tidak terkena dampak dari kekerasan saat bepergian menuju kantor," kata juru bicara Electrolux, Daniel Frykholm.

Electrolux saat ini mempekerjakan 6.700 pekerja di Mesir dan diminta tidak bekerja dari Kamis pekan lalu. Sabtu pekan ini, perusahaan akan mengevaluasi situasi Mesir terkini apakah cukup aman untuk beroperasi kembali.

Perusahaan migas asal Belanda, Royal Dutch Shell, menutup kantornya sejak Kamis, perusahaan juga melarang karyawannya untuk bepergian dan meminta semuanya untuk memonitor situasi. Tidak disebutkan, apakah fasilitas produksi Shell, bekerjasama dengan Badr El-Din Petroleum Co, juga ikut ditutup.

General Motors Mesir menutup pabriknya di Kairo yang memproduksi mobil, truk pikap, dan minibus. Raksasa otomotif ini mempekerjakan 1.400 pekerja dan merupakan perusahaan otomotif swasta pertama yang beroperasi di Mesir pada 1983.

Raksasa ritel Jerman, Metro, menutup kantor pusatnya dan hanya membuka dua toko penjualan makanan di ibukota Mesir. Perusahaan kimia BASF juga menutup sementara pabrik dan kantor pusat. BASF telah beroperasi selama 60 tahun dan memproduksi berbagai bahan kimia yang berguna untuk konstruksi.

Analis IHS Automotive, Paul Newton, di London, menyatakan Toyota dan Suzuki juga menghentikan produksi mobil pabrik di Mesir karena tidak stabilnya kondisi politik. Ia memprediksi, produksi kendaraan Mesir akan anjlok 8 persen dan penjualan turun 4 persen.

"Mesir salah satu produsen mobil terbesar di Afrika dan sekitarnya," kata Paul dalam risetnya.

GM memulai merakit mobilnya Chevrolet Move pada akhir tahun lalu karena didukung oleh pemerintah setempat untuk membangun industri otomotif Mesir. Pemerintah Mesir pada awal tahun ini juga telah membahas dengan produsen otomotif India, Tata Motors, untuk menjadi partner dalam membangun pabrik dan perusahaan otomotif milik negara.

"Produsen otomotif China, Zhejiang Geely Holding juga menargetkan Mesir sebagai salah satu produsen manufaktur untuk Afrika," kata Paul. (sj)
TERKAIT
TERPOPULER