BISNIS

Rupiah Anjlok Lagi

Kurs data BCA, rupiah di perdagangan di level Rp11.000/dolar AS.

ddd
Selasa, 20 Agustus 2013, 11:27
Teller sedang mengitung uang dolar AS dan rupiah.
Teller sedang mengitung uang dolar AS dan rupiah. (VIVAnews/Muhamad Solihin)
VIVAnews - Nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat, kembali melemah di luar perkiraan.  

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, Selasa 20 Agustus 2013, rupiah turun tajam di level Rp10.504 per dolar AS, dari perdagangan sebelumnya yang melemah dan menyentuh posisi Rp10.451/dolar AS.

Bahkan, berdasarkan data Bank Central Asia, rupiah di perdagangan di level Rp11.000 per dolar untuk kurs jual dan Rp10.650 untuk kurs beli.

Pengamat pasar  dari PT Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, mengungkapkan bahwa saat ini risiko terhadap rupiah meningkat jika dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu. 

"Sekarang, risiko rupiah semakin meningkat, batas melemahnya tidak lagi bisa ditolelir," kata Lana kepada VIVAnews di Jakarta.

Meskipun pelemahan mata uang juga terjadi di negara lain, Lana beranggapan, pelemahan rupiah cenderung lebih dalam sehingga menyebabkan kepanikan yang luar biasa di pasar.

Untuk itu, menurutnya, investor lebih memilih dolar sebagai save haven (investasi aman) saat ini. "Dana mulai keluar dari emerging market, sebab dana asing mulai keluar masuk ke AS, yang dianggap lebih save dan dolar semakin langka," tegasnya.

Kendati demikian, Lana mengaku, meski terjadi kepanikan yang luar biasa tapi kondisi Indonesia tidak terlalu mengkhawatirkan atau lebih baik dari tahun 2008. "Kita tidak sedang menuju kebangkrutan, tapi memang kesannya demikian. Ini tekanan dari spekulan dan memang dari dalam negeri sendiri necara pembayaran kita mengalami defisit, sehingga keadaaan jadi seperti ini," ujarnya.

Melihat kedaan tersebut, Lana pun menyarankan agar pemerintah dan Bank Indonesia untuk tidak bergerak gegabah dan sebaiknya menunggu waktu yang tepat untuk intervensi.

"Jangan intervensi terlalu dalam, karena itu juga bahaya untuk cadangan devisa," ujarnya. (eh)


© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com