BISNIS

Redam Harga Kedelai, Lahan Pasang Surut Jadi Area Tanam

Perluasan area tanam dengan menggunakan lahan yang menganggur.

ddd
Minggu, 22 September 2013, 12:13
Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di kawasan Sunter.
Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di kawasan Sunter. (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
VIVAnews - Kementerian Pertanian tengah mengembangkan luas lahan kedelai untuk meningkatkan produktivitasnya. Salah satunya, dengan mengembangkan lahan pasang surut di daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Ketika dihubungi VIVAews, Minggu 22 September 2013, Direktur Budi Daya Kacang dan Umbi Kementerian Pertanian, Maman Suherman, mengatakan, kementerian melakukan berbagai cara untuk mengembangkan lahan kedelai yang menyusut.

"Jadi, perluasan area tanam dengan menggunakan lahan yang menganggur," kata Maman.

Kementerian, Maman menambahkan, juga mengoptimalkan lahan kedelai yang sudah ada, yaitu berusaha untuk melipatgandakan produktivitas kedelai dengan memperbanyak masa tanam kedelai.

"Yang biasanya digunakan hanya sekali tanam, kami tingkatkan jadi dua kali tanam," kata dia.

Tidak hanya itu, Kementerian Pertanian menggunakan lahan PT Perhutani untuk menanam kedelai. Dalam pemanfaatan lahan milik perusahaan pelat merah itu, Maman menggunakan metode tumpang sari.

"Kami menggunakan lahan Perhutani. Jadi, kami menanam kedelai di bawah pohon jati yang masih muda. Sudah dikembangkan di Banten dan Yogyakarta. Mulai awal Februari," ujarnya.

Lahan yang digunakan oleh pemerintah pada kedua daerah itu sekitar 1.500 hektare. Dengan rincian, di Banten 900 hektare dan Yogyakarta 600 hektare. Kedua lahan itu pun sudah menghasilkan kedelai.

"Di Banten ada 1,5 ton kedelai per hektare dan panennya sekitar Agustus. Kalau di Yogya, 1,5-1,6 ton per hektare dan itu dipanen Mei-Juni," kata dia.

Lahan yang menggunakan pasang surut air sungai juga turut menjadi sasaran Kementerian Pertanian. Tepatnya di daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. "Ada 1.000 hektare. Di sana, diatur drainasenya," ujar Maman.

Lalu, bagaimana dengan membuka lahan baru? Maman mengatakan bahwa menambah lahan kedelai dengan membuka lahan baru sulit dan lama. "Lahan itu baru bisa digunakan setahun, setelah pembukaan lahan," kata dia.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian mengatakan bahwa lahan pertanian kedelai menyusut dari 1 juta hektare menjadi 571 ribu hektare. Menurunnya luas lahan turut membuat produktivitas kedelai turun.

Kini, jumlah produk nasional 700-850 ribu ton. Jumlah ini jauh dibandingkan dengan konsumsi nasional yang mencapai 2,5 juta ton per tahun.

Maman tidak memungkiri, harga jual kedelai yang kalah saing, menjadi penyebab petani kedelai berpaling ke tanaman pangan lain seperti padi dan jagung. "Harganya memang kalah saing dengan kedelai impor. Lagipula, harga padi dan jagung juga lebih bagus daripada kedelai," kata dia.

Selain itu, adanya alih fungsi lahan menyebabkan turunnya luas area tanam kedelai. "Ada alih fungsi lahan, tapi cuma sedikit. Paling beralih ke perkebunan kelapa sawit," tutur dia. (art)


© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id