BISNIS

Mobil Murah Asal India

Jika Dijual di RI, Nano Seharga Rp 55 Juta

Melonjaknya harga hingga dua kali lipat lebih itu disebabkan tingginya pajak bea masuk ken

ddd
Rabu, 8 April 2009, 17:26
Tata Nano, mobil super murah a la India tengah dipamerkan.
Tata Nano, mobil super murah a la India tengah dipamerkan. (jalopnik.com)

VIVAnews - Mobil murah asal India, Tata Nano jika masuk ke Indonesia diperkirakan akan dipatok Rp 55 juta. Padahal harga aslinya hanya 100 ribu rupe atau sekitar Rp 23 juta.

Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika Budi Darmadi mengatakan, melonjaknya harga hingga dua kali lipat lebih itu disebabkan tingginya pajak bea masuk kendaraan hingga 40 persen.

Belum lagi pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen, pajak pertambahan nilai impor (PPN impor) 2,5 persen, pajak penjualan barang mewah (PPnBM) 10 persen, dan biaya distribusi. "Ini bisa naik dua kali lipat lebih," kata Budi kepada VIVAnews di kantornya, Jalan Gatot Subroto Jakarta, Rabu 8 April 2009.

Kondisi itu membuat Nano yang diklaim mobil termurah di dunia bakal kesulitan dalam mencari penetrasi pasar Indonesia. Dengan harga Rp 55 juta, konsumen akan memilih mobil lain yang sudah tahu kualitasnya. "Orang akan memilih Avanza seken meski harus menambah dananya," ujarnya.

Karena kuallitas yang belum teruji itu, harga murah belum tentu bisa bersaing di pasar Indonesia. "Sekarang tinggal memilih mobil yang belum ketahuan kualitasnya dan jaringan purna jualnya, atau membeli mobil seken," ujarnya.

Menurut dia, penetrasi ke pasar baru otomotif sangat tergantung konsumen. Apalagi Nano hanya 850 cc sedangkan mobil yang Rp 100 jutaan di Indonesia memiliki isi silinder yang lebih besar, sampai 1.700 cc. "Ini bisa dibawa Jakarta - Tegal," tutur Budi.

Karena itu, harga murah belum menjadi jaminan produk akan laku. Harus bisa merebut hati konsumen dengan meyakinkan keamanan dan menjamin sparepartnya bisa mudah ditemukan. Suku cadang, menurut dia, merupakan uang mati yang dibebankan ke harga mobil. "Jadi jaringan suku cadang itu penting," kata Budi.

Faktor utama untuk bisa masuk ke pasar baru untuk sektor otomotif menurut Budi adalah jaringan sparepart dan kepercayaan konsumen. "Butuh waktu untuk penetrasi," ujarnya. Ternyata menurut Budi, daya beli melemah bukan indikator masyarakat akan membeli mobil murah. "Justru masyarakat akan lebih selektif untuk mengeluarkan uangnya," kata dia.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com