OJK Telusuri Utang-Piutang Korban AirAsia

suasana haru keluarga penumpang airasia qz8501 di bandara juanda
Sumber :
  • REUTERS/Beawiharta
VIVA.co.id
Kakak Korban AirAsia: Saya Dengar Pesawat Itu Bermasalah
– Otoritas Jasa Keuangan akan memfasilitasi bantuan perbankan terkait penyelesaian harta warisan dan utang-piutang korban AirAsia QZ8501 semasa hidup.
Kemenhub Rekomendasi Dua Hal Ini ke AirAsia

Direktur Pengawasan Bank OJK Kanreg III Jatim, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Widjanarko menyatakan, pada dasarnya posisi OJK yakni mengawal proses pembayaran asuransi agar dilakukan sesuai hak-hak para korban.
Beginilah Detik-detik Terakhir Jatuhnya AirAsia QZ8501


Dari hasil pantauan OJK, sebenarnya asuransi sudah merespons secara positif sejak jatuhnya pesawat AirAsia pada 28 Desember 2014. Hanya saja, menurut Bambang, keluarga mungkin masih fokus pada pencarian korban, sehingga belum mengurus persyaratan asuransi.


“Kendati demikian, dia akan terus memberikan fasilitasi kepada para keluarga korban, yakni dengan membuka layanan informasi,” kata Bambang Widjanarko usai melakukan pertemuan dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Balai Kota, Rabu 21 Januari 2015.


Soal kejelasan status bunga utang dan perkreditan milik korban, kata Bambang, OJK akan berkoordinasi dengan pihak bank terkait. Harapannya, ada kebijakan khusus dengan pertimbangan tertentu.


“Sebisa mungkin agar bunga cicilan yang semestinya dibayar oleh korban tidak membebani keluarga yang ditinggalkan. Nanti pasti akan kami komunikasikan dengan perbankan,” ujarnya.


Pada prinsipnya, kejelasan status korban secara administrasi kependudukan akan menunggu hingga operasi pencarian berakhir. Beberapa keluarga korban yang hadir di balai kota mempertanyakan, kira-kira kapan proses evakuasi akan diakhiri.


Sementara itu, Hariadi Purnomo, Kasi Operasi Basarnas Kantor Surabaya menjelaskan, sesuai Undang-Undang No. 29 Tahun 2014 jangka waktu pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama tujuh hari.


Lama pencarian dapat diperpanjang dengan pertimbangan terdapat informasi baru mengenai indikasi ditemukannya korban, terdapat permintaan dari perusahaan atau pemilik pesawat udara, serta adanya perkembangan baru berdasar evaluasi koordinator misi pencarian.


“Yang berhak menyatakan penghentian operasi pencarian adalah kepala Basarnas. Hingga kini belum ada instruksi dari pimpinan kami (kepala Basarnas), tentunya beliau punya pertimbangan-pertimbangan tertentu,” kata Hariadi.


Sementara itu, informasi yang dihimpun dari pusat krisis per 21 Januari 2015, sejauh ini 47 korban dari 53 jenazah yang telah dievakuasi berhasil teridentifikasi. Rincian korban yang teridentifikasi yakni 25 warga Surabaya dan 22 warga luar Surabaya. Sebelumnya, pemkot menyatakan bahwa 78 dari 162 korban AirAsia adalah warga Surabaya. (art)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya