BISNIS

BI: Pembajakan Karyawan Bank Perlu Kode Etik

Selama ini bajak membajak SDM perbankan syariah dilakukan tanpa etika.

ddd
Jum'at, 19 Juni 2009, 16:57
Bank Indonesia
Bank Indonesia (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews - Bank Indonesia mengaku prihatin dengan pembajakan karyawan perbankan syariah. BI berharap pembajakan-pembajakan dilakukan dengan etika.

Direktur Perbankan Syariah Ramzi A Zuhdi di Jakarta, Rabu 19 Juni 2009 menegaskan, dengan sistem pembajakan yang berlaku saat ini, tanpa kode etik, akhirnya justru menganggu sistem di bank bersangkutan yang buntutnya merembet ke industri perbankan syariah nasional.

"Karena itu ke depan kita akan susun program yang di satu sisi bisa mendidik kualitas SDM bank itu sendiri. Misalnya kita mengharapkan animo industri bank syariah semakin baik," katanya. Bagaimana modelnya, ia mengaku masih belum tahu.

Namun setidaknya, jika satu bank ingin membajak karyawan bank lainnya, maka bank bersangkutan harus memberitahukan pimpinannya terlebih dahulu. "Mungkin dengan demikian pimpinan menjadi bersiap-siap, tidak langsung keluar saja. Mungkin ada biaya transfer seperti pemain. Tapi mereka yang menyusun agar siap pakai," katanya.

Sayangnya yang terjadi saat ini tidak seperti itu. Pembajakan tidak dikoordinasikan sama sejali, sehingga BI memikirkan untuk mengaturnya. "Kalau ini demi kebaikan SDM-nya, kalau kita menghalanhi kan kasihan. Kalau mau naik jabatan, itu juga yang kita pikirkan," ujarnya.

Namun diakuinya, di Indonesia saat ini belum ada sertifikasi bank syariah bagi SDM. Kesiapan SDM masih mengikuti standar perbankan syariah. "Nanti akan dibikin sendiri pada waktunya oleh industri, saat ini masih mengikuti konvensional ditambah unsur-unsur syariah, seperti aspek pengetahuan syariahnya (untuk fit and proper test)," kata dia.

Mengenai fit and proper test BCA Syariah, Ramzi mengatakan, daftarnya belum masuk ke BI. Yang sudah masuk adalah Bank Jabar Banten. "Yang sudah di kita akan kita gulirkan. Tinggal melahirkannya saja. Manajemen yang mereka usulkan sudah ada, scheme permodalan juga sudah, minimal Rp 500 miliar," katanya.

umi.kalsum@vivanews.com



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
idhoet
02/08/2009
dah banyak ah.... kalo g mau karyawan lari dr bank tsb..y berikan suatu keadaan yg sehat dunk di bank itu.. managemen yg baek,,, kan jadinya kita betah2 aj bro... kalo gajebo.... gmn bisa tahan... jangan salahkan karyawannya aj lah... semua pihak lha ya..
Balas   • Laporkan
nanang
19/06/2009
Setuju saja, tapi agak heran juga. Dunia pasar bebas tenaga kerja kayak sekarang kon, soal pindah kerja saja masih harus diatur-atur. Kesetiaan pegawai harus dijaga perusahaan supaya mereka tidak lari.
Balas   • Laporkan
Supriatno
19/06/2009
Ini ide menarik. Kalau ada pegawai bank harus bayar uang transfer. Tapi berapa banyak uang bank kita yang akan keluar, kalau bank-bank lokal harus menyewa bankir dari luar negeri. Kalau semua profesi ditetapkan seperti mantap sekali.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id