BISNIS

Laris Manis Jualan Embun

Karena harganya mahal, target pasar produk ini adalah kalangan masyarakat peduli kesehatan

ddd
Senin, 3 November 2008, 07:06
Penjual sedang memasarkan air embun Purence
Penjual sedang memasarkan air embun Purence (VIVAnews/Anda Nurlaila)

VIVAnews - Manisnya pasar dirasakan PT Eternair Water Indonesia. Menyajikan produk asli Indonesia yang unik Purence, membuat produsen air dari embun ini menuai antusiasme pembeli. 
 
Menggunakan teknologi tinggi PT Eternair yang pabriknya berada di Curug Gunung Sindur Bogor memproduksi air minum dengan systematized dew process (SDP). Hasilnya, air murni bermerek Purence menarik potensial buyer dari Hongkong, Swedia, dan Polandia.
 
Tempat dengan kelembapan tinggi adalah tempat ideal menghasilkan air murni. Purence juga sudah diekspor ke Singapura dan Dubai. Dalam kemasan elegan botol plastik warna-warni seperti kuning, merah, ungu, biru, Purence banyak menarik perhatian pembeli domestik dan internasional.
 
Plant Manager PT Eternair Anastasia Trianita HS mengatakan, pihaknya menerima order dari beberapa pengusaha dalam negeri untuk memasarkan produknya. Tak heran, sejak eksis 8 Maret 2006 silam, produksinya mencapai 500 karton/bulan. Kini, nilai produksinya meningkat hingga 300 persen mencapai 15.000 karton per bulan. "Order ini membuat angka produksi kami meningkat," terangnya, kepada VIVAnews beberapa waktu lalu.
 
Sumber pembuatan airnya unik, tangkapannya air dari kelembapan udara alias embun. Melalui SDP, PT Eternair menghasilkan air murni yang bebas partikel padat dan mineral anorganik yang tak berguna bahkan merugikan bagi tubuh. Menurut penelitian San Antonio Testing Laboratory di Amerika Serikat, air dari hasil SDP merupakan air termurni yang pernah diteliti selama 16 tahun. 
 
Teknologi baru pengolahan air ini pun menjaring perhatian calon investor untuk membangun pabrik di daerah mereka. Rencana ke depan, pihaknya juga berniat membangun beberapa pabrik di daerah dengan kelembapan tinggi seperti di Hawaii pada 2010. "Sekarang sudah ada pengusaha asal Hawaii yang menyatakan tertarik untuk bergabung," katanya. Memang dalam jangka menengah pihaknya berniat mendekatkan produk dengan konsumen dan memotong biaya pelayaran (shipping cost) dengan membangun pabrik di Negara potensial kelembapan tinggi. 
 
Produk yang memang terlihat elegan daripada air kemasan biasa dijual di pasaran memang berkali lipat lebih mahal. Harga ritel sebotol kemasan 330 mililiter mencapai Rp 11.000 - 12.000 per botol. Memang, Anita melanjutkan, target awalnya adalah kalangan masyarakat yang peduli kesehatan. "Sebagai awal kami tawarkan pada kalangan yang menganggap health cost a thing," katanya. 
 
Purence mencuri perhatian beberapa kegiatan internasional. Sebut saja British conference dan beberapa pertemuan global di Indonesia pernah menjadi ajang promosi produk asli Indonesia ini sebagai official partner.
 
Meski membutuhkan kelembapan tinggi, teknologi ini ternyata bisa dilakukan di berbagai tempat. Tetapi konsekuensinya akan mempengaruhi biaya produksi. Di tempat berpolusi tinggi misalnya, tetap menghasilkan Purence kualitas air murni yang sama di tempat yang relative lebih bersih. Tetapi filter yang diperlukan (MPSS) akan sering diganti. "Ini yang menjadikan biaya tinggi," katanya. 
 
PT Eternair kini hanya beroperasi di Curug Gunung Sindur Bogor dengan satu unit mesin mesin bernilai Rp 5 miliar - Rp 8 miliar mampu menghasilkan 70.000 liter air per hari atau 500.000 liter air perbulan. Sebab, masih beroperasi satu shift sehari, kendala utama masih ada pada beban listrik yang cukup besar. Biaya abodemen listrik saja mencapai 25 juta perbulan. "Biayanya ini yang masih sangat tinggi," ujarnya. Sehingga ke depan penambahan kapasitas produksi dan pemasaran yang lebih luas mampu menutup biaya .



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com