TUTUP
TUTUP
BISNIS

Rekayasa Temukan Teknologi Blok Natuna

Rekayasa akan mengikuti tender pembuatan kilang di lapangan gas terbesar di dunia ini.
Rekayasa Temukan Teknologi Blok Natuna
Seorang petugas sedang mengecek pipa gas di Ukraina (AP Photo/Surgei Chuzavkov)

VIVAnews – PT Rekayasa Industri Tbk tengah mengkaji teknologi pemisahan gas karbon dioksida (CO2) yang bercampur dengan gas alam untuk diterapkan di lapangan gas Blok Natuna D Alpha, Kepulauan Riau.

Selanjutnya, Rekayasa Industri akan mengikuti tender pembuatan kilang di lapangan gas terbesar di dunia ini.

Blok Natuna D Alpha memiliki cadangan gas hingga 202 triliun kaki kubik. Namun, karena 70 persen kandungannya karbon dioksida, cadangan gas yang dapat diproduksi hanya 46 triliun kaki kubik. 

“Kami sedang memikirkan. Tahapnya, hampir menemukan teknologi pemisah karbon dioksida,” kata Direktur Utama Rekayasa Triharyo Soesilo kepada VIVAnews di kantornya, Jalan Kalibata Timur, Jakarta, beberapa waktu lalu. "Kami  sudah uji cobakan teknologi itu."

Teknologi itu, menurut Triharyo, juga bisa menyuntikkan kembali karbon dioksida ke perut bumi agar tidak membuat panas bumi meningkat.

Hasil temuan Rekayasa lebih efisien dibandingkan dengan teknologi yang sering digunakan. “Isunya, bagaimana memisahkan gas karbon dioksida semurah mungkin,” tutur Triharyo.

Namun, dia mengatakan, Rekayasa tidak lagi fokus menangani masalah ini. Pasalnya, penunjukan pengelolaan Blok Natuna hingga kini belum jelas, apalagi soal kontrak. “Surat Keputusannya saja belum ada. Pemimpin proyeknya belum ditunjuk. Ngapain kami tunggu,” kata dia.

Jika memenangkan tender, Rekayasa nantinya hanya menjadi kontraktor pembuat kilang. “Kami saat ini masih fokus pada panas bumi, pemerintah sedang serius dengan energi ini,” ujarnya.

Hingga kini, PT Pertamina, selaku perusahaan yang ditunjuk pemerintah mengelola blok itu belum memilih rekanan dalam pengelolaan Blok Natuna. Dari hasil seleksi konsultan Pertamina, Wood Mackenzie, Pertamina baru menentukan delapan perusahaan yang masuk dalam daftar rekanannya.

Perusahaan-perusahaan itu adalah ExxonMobil (Amerika Serikat), Total (Perancis), Chevron (Amerika Serikat), Statoil (Norwegia), Shell (Belanda), ENI (Italia), CNPC (Cina) dan Petronas (Malaysia). hadi.suprapto@vivanews.com

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP