TUTUP
TUTUP
BISNIS

Rekayasa Selesaikan Pabrik Methanol di Brunei

Proyek senilai US$ 572 juta ini diperkirakan bakal kelar Agustus mendatang.
Rekayasa Selesaikan Pabrik Methanol di Brunei
Direktur Utama Rekayasa Triharyo Hengky Soesilo (VIVAnews/Hadi Suprapto)

VIVAnews – PT Rekayasa Industri (Rekind), perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang rancang bangun, pengadaan, dan konstruksi (EPC), sedang menyelesaikan tahap akhir proyek pabrik methanol di Sungai Liang, Brunei Darussalam. 

Proyek senilai US$ 572 juta ini diperkirakan bakal kelar Agustus mendatang. Pabrik milik Mitsubishi Heavy Industry Ltd ini telah dikerjakan sejak 15 September 2007. Seluruh pengerjaan rancang bangun, pengadaan, dan konstruksi dilakukan oleh Rekayasa Industri. 

“Sekarang proses finishing,” kata Direktur Utama Rekayasa Triharyo Hengky Soesilo kepada VIVAnews di kantornya beberapa waktu lalu.

Menurut Hengky, Rekayasa Industri juga sedang membangun Gas to Propylene Project (ROPP) Balongan, milik PT Pertamina (Persero). Rekayasa akan membuat pabrik propylene yang berasal dari gas buang kilang.

Proyek yang ditandatangani Januari 2009 itu, rencananya akan selesai akhir 2010. Kali ini, Rekayasa membentuk konsorsium dengan Toyo Engineering Corporation. 

Hengky mengatakan, selama ini pabrik propylene tidak menyatu dengan kilang. Bahan baku plastik botol air mineral ini biasanya dibuat di pabrik yang berbeda dan jauh dengan kilang. “Ini proyek pertama di Indonesia,” katanya.

Proyek senilai US$ 283 juta ini rencananya dalam pembangunan, 42 persen akan menggunakan bahan baku lokal.

Rekayasa juga mengerjakan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Wayang Windu 2 dengan kapasitas 1x110 megawatt. Rekayasa menjadi subkontraktor dari Sumitomo Corporation dalam pembangunan pembangkit milik PT Star Energy (Barito Garoup) ini.

Dalam proyek pembangkit 10 ribu megawatt milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Rekayasa mendapat kontrak membuat Pembangkit Listrik Tenaga Uap Sumatra Barat 112 megawatt, di Padang. Proyek ini ditandatangani pada 9 Mei 2008 dengan nilai proyek US$ 179 juta dan Rp 693 miliar.

Dalam proyek ini, Rekayasa menggandeng China National Technical Import & Export Corporation. Rekayasa akan mengerjakan konstruksi sipil, termasuk suplai material besi. Pembangunan proyek ini memakan waktu 36 bulan dan selesai 2010.

Proyek 10 ribu megawatt yang lain, Rekayasa mengerjakan Pembangkit Suralaya 1x600 megawatt di Banten. Pembangkit milik PLN ini dibiayai dari Bank Exim China. Rekayasa menjadi anggota konsorsium China National Technical Import and Export Corporation. hadi.suprapto@vivanews.com

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP