PGE Dinilai Lebih Tepat Dikontrol Pertamina, Ini Alasannya

Ilustrasi sumur PGE.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id – Operasional PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), anak usaha PT Pertamina, saat ini dinilai berjalan baik dan memiliki proyeksi bisnis ke depan yang kuat. Apalagi, PGE saat ini menjadi pionir dalam pengembangan energi panas bumi di Tanah Air. 
 
Pengamat energi dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, risiko terbesar dari pengusahaan panas bumi adalah  eksplorasi atau drilling

Dalam Tiga Bulan, Serapan Produk UMKM di Pertamina Capai Rp3,5 Miliar

“Dengan pengalaman Pertamina di bisnis migas, risiko ini dapat dikelola dengan baik,” ujar Fabby dikutip dari keterangan resminya, Senin 29 Agustus 2016.  

Menurut Fabby, melihat kondisi saat ini yang menjadi pertanyaan terkait rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar PT PLN ikut menyertakan modal di PGE adalah siapa yang nantinya menjadi pengendali. Sebab, Kementerian BUMN ingin PLN ikut menguasai saham PGE sebesar 50 persen dan sisanya 50 persen tetap dikuasai Pertamina. 

X-Trail Baru Dijual Rp370 Jutaan, dan Perusahaan Amerika Mau Investasi

"Siapa yang menjadi pengendali utama ini penting dalam rangka memastikan PGE berjalan secara optimal. Kalau dilihat dari aspek tadi, Pertamina lebih cocok jadi pengendali," tegas dia. 

Sementara itu, Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia, Abadi Purnomo menyatakan tidak setuju bila PLN masuk ke PGE. Dia menilai, hal ini merupakan langkah mundur dan membuat investasi panas bumi tidak kondusif. Sebab, PLN sebagai off taker ikut berbisnis yang berakibat pada pengembangan panas bumi jadi stagnan.

Ahok: Kalau Saya Dirut Pertamina, Kadrun Demo Mau Bikin Gaduh

Let all the business move on as it is, tak perlu corporate action. Apa sih yang diharapkan PLN? Harga murah? Putuskan saja di Kementerian,” ujarnya.

Seperti diketahui, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno menegaskan PGE  akan tetap di bawah Pertamina meskipun sebagian sahamnya akan diakuisisi PLN. Kementerian BUMN saat ini telah menunjuk PT Danareksa sebagai konsultan untuk melakukan kajian masuknya penyertaan modal PLN ke PGE.

Sebagai informasi, PGE hingga akhir 2016 menargetkan memiliki kapasitas terpasang listrik dari  Pembangkit Listrik Tenaga Panas (PLTP) sebesar 542 megawatt (MW) dengan masuknya tambahan 105 MW dari tiga pembangkit. Yaitu PLTP Ulubelu Unit 3 berkapasitas 55 MW, PLTP Lahendong Unit 5 berkapasitas 20 MW, dan PLTP Karaha Unit 1 berkapasitas 30 MW. Salah satu di antaranya, PLTP Ulubelu Unit 3 sudah beroperasi sejak 15 Juli 2016.

Sekretaris Perusahaan PGE, Tafif Azimudin mengatakan, saat ini PGE mengerjakan lima proyek panas bumi sekaligus, tiga di antaranya beroperasi tahun ini. Sisanya, akan beroperasi pada 2017. 

“Baru PGE satu-satunya perusahaan di Indonesia, bahkan di dunia yang mengerjakan lima proyek panas bumi sekaligus. Kami  memang diinstruksikan untuk se-progresif mungkin mengembangkan panas bumi oleh Pertamina,” ungkap dia.

Menurut Tafif, PGE mendapat dukungan penuh dari induk usahanya, Pertamina dalam mengembangkan sektor panas bumi. Apalagi dengan infrastruktur dan kompentensi Pertamina di upstream, operasional PGE sangat terbantu. 

“Rig kami tinggal minta ke PDSI (PT Pertamina Drilling Service Indonesia). kami juga dapat dukungan dari PT Elnusa Tbk,” katanya.
 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya