TUTUP
TUTUP
BISNIS

Pengusaha Kakap Ikut Tax Amnesty Beri Efek Domino

Masih ada penguasaha yang khawatir ikut kebijakan tax amnesty.
Pengusaha Kakap Ikut Tax Amnesty Beri Efek Domino
Pengusaha nasional James Riady menerima bukti laporan dari Kanwil DJP Wajib Pajak Besar usai melaporkan tax amnesty di Kantor DJP Pajak, Jakarta, Jumat (2/9/2016).  (ANTARA FOTO/Norman)

VIVA.co.id – Direktorat Jenderal Pajak meyakini bahwa ratusan pengusaha kelas kakap akan mulai ikut berpartisipasi dalam program kebijakan pengampunan pajak, atau tax amnesty pada pekan ini. Sebelumnya, dua pengusaha kelas kakap secara terang-terangkan mendeklarasikan harta mereka.

Kedua pengusaha tersebut adalah Bos Lippo Group James Riady dan mantan Ketua Umum Assosisasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi. Langkah kedua konglomerat itu diharapkan mampu memberikan efek domino terhadap pengusaha kelas kakap lainnya, agar ikut tax amnesty.

“Mereka publish deklarasi itu memang bisa menjadi efek bola salju,” kata Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo, saat berbincang dengan VIVA.co.id, Rabu 7 September 2016.

Menurut Prastowo, para pengusaha yang tergabung dalam Apindo memang menyatakan komitmennya untuk mensukseskan program tax amnesty. Namun, dia mengatakan, masih ditemukan adanya kekhawatiran di benak para pengusaha lainnya terhadap kebijakan tersebut.

“Mereka masih ada yang khawatir. Sekarang begini, James Riady dan Sofjan Wanandi mengisi SPH (Surat Penyertaan Harta) cepat sekali. Kenapa yang lain sampai sekarang tidak ada? Padahal, masalah mereka sama,” katanya.

Prastowo khawatir, periode pertama tax amnesty dengan tarif rendah tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal. Menurutnya, jika sampai akhir periode pertama jumlah Wajib Pajak (WP) besar yang mengikuti tax amnesty masih rendah, hasil akhir dari program tersebut justru nantinya bisa dipertanyakan.

“Saya melihat, ada antusiasme besar untuk mencari informasi dari WP. Tapi saya kira, pemerintah justru bergerak sendirian. Ini agak mengkhawatirkan. Harus dilihat serealistis mungkin ke penerimaan negara, shortfall, dan defisit,” ungkapnya. (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP