TUTUP
TUTUP
BISNIS

Desa Ngringinrejo, dari Langganan Banjir Berbuah Belimbing

Senyum Musiah untuk masa depan keluarganya.
Desa Ngringinrejo, dari Langganan Banjir Berbuah Belimbing
Kawasan wisata Belimbing Ngringinrejo, Bojonegoro

VIVA.co.id – Senyum mengembang dari bibir Musiah (52) tahun, pedagang Belimbing di "Kawasan Wisata Petik Belimbing" yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dusun Mejayan, Desa Ngringinrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ini.

Perempuan paru baya ini bertutur, perjalanan ekonomi keluarganya perlahan membaik, sejak memiliki sumber penghasilan dari berjualan Belimbing yang dipetiknya dari hasil kebun sendiri. 

Sebelumnya, istri dari almarhum Yatmono, sopir perusahaan swasta ini mengaku hidupnya serba berkekurangan, termasuk untuk memenuhi kebutuhan dapur bersama keluarganya.

"Untuk kebutuhan dapur saja sering kurang, apalagi untuk lainnya," kata Musiah saat ditemui di lapak yang juga kebun Belimbingnya. Namun, seiring berjalannya waktu, semuanya kemudian berubah.

Pedesaan, di tepi Bengawan Solo yang selalu dilanda banjir tahunan, dan mengandalkan tanaman palawija yang kerap gagal panen dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur, kini tak lagi dirasakan.

"Desa ini selalu jadi langganan banjir, bahkan lebih dari satu meter, yang menghabiskan tanaman palawija," katanya.

Hal tersebut terjadi seiring dengan munculnya perubahan, yang menyulap lahan tidak produktif di desanya menjadi kebun Belimbing di yang dikelola Kelompok Sadar Wisata Desa Ngringinrejo.

Ibu dari tiga anak, Irma, Agus dan Sari itu bertutur, sejak ada kesepakatan bersama warga desa, semua lahan ditanami Belimbing, hasilnya dapat dirasakan. Kemudian mengangkat perekonomian warga setempat menjadi lebih baik, termasuk dialami Musiah.

"Dulu, saat masih menanam palawija selalu habis kena banjir. Tidak ada yang bisa diharapkan untuk kebutuhan hidup. Saat ini, meskipun ada banjir, pohon Belimbing ini masih tahan dan tetap menghasilkan," katanya.

Mengandalkan tanaman palawija tidak bisa dipastikan hasilnya, karena desanya kerap terendam banjir. Juga, saat suaminya masih hidup, penghasilannya sebagai supir tidak mencukupi untuk menutup kebutuhan hidup.

"Serba kurang saat itu. Tapi sekarang saya bersyukur bisa menikmati hasil ini, karena ada kebun Belimbing," ujarnya.

Sejak tahun 2000, Musiah juga warga lain di desanya, beralih berjualan Belimbing. Itu dilakukan dengan menggelar lapak, satu meja besar dilengkapi atap plastik, menjadi tumpuan mengais rezeki di areal yang kini menjadi taman wisata, dan dibanjiri pengunjung.

Musiah tidak memiliki lahan sendiri untuk menanam Belimbing, seperti kebanyakan tetangganya yang lain, punya tanah dan bisa menanami pohon Belimbing.

Saat suaminya meninggal dunia, wanita paruh baya itu pun gelisah. Ketakutan ekonomi keluarganya semakin terpuruk terus bergelayut di pikirannya. "Apalagi saat itu, ketiga anak saya masih membutuhkan biaya untuk sekolah," katanya.

Modal Rp5 juta

Setelah suaminya meninggal dunia ada santunan uang dari perusahaan tempat suaminya bekerja, tidak banyak hanya Rp5 juta. Uang duka cita itu kemudian dibuat mengontrak tanah yang sudah ada tanaman Belimbingnya.

"Uang itu saya buat mengontrak tanah ini, dan, satu pohon dihargai Rp50 ribu, di lahan ini ada 40 pohon banyaknya," kenang Musiah. 

Kemudian, buah Belimbing yang terus berbuah itu pun mampu mengubah jalan hidupnya, serba kurang menjadi cukup. Bahkan, kini dua anaknya telah lulus sekolah menengah atas. Tinggal satu anaknya yang masih duduk di bangku sekolah lanjutan atas.

"Alhamdulillah, kehidupan saya berubah, saya juga bisa beli tanah dan membangun rumah," katanya dengan mata berbinar, sedih bercampur gembira.  

Pedagang belimbing di Kawasan Wisata Petik Belimbing

Ia pun kemudian menyebut, itu berkat perangkat desa yang juga pemilik tanah kebun Belimbing tersebut, bernama Bakri yang sudi menyewakan tanahnya kepada dia.

"Iya, tanah ini menyewa, saya sewa langsung empat tahun, yang punya perangkat desa, Pak Bakri," katanya. Saat ini, kesulitan mencari untuk kebutuhan dapur keluarganya tidak sesulit dahulu, sebelum ada lokasi wisata kebun Belimbing.

Sehari, setidaknya dia masih mendapat uang hasil penjualan Belimbing di kebun yang disewa, berkisar antara Rp500 ribu sampai Rp1,5 juta. Bahkan, jika hari Sabtu, Minggu atau hari besar, bisa sampai mendapat Rp2,5 juta.

"Saya bersyukur sekali, Tuhan memberikan jalan hidup dengan adanya wisata kebun Belimbing ini," katanya.  Dan, sampai saat ini bisa rutin menabung, yang dikatakan untuk persiapan mewujudkan keinginan dapat menunaikan ibadah haji ke tanah suci, Makkah.

Sementara, untuk perawatan pohon Belimbing, dikatakan tidak sulit. Disebutkan, memang ada hama lalat buah yang muncul mengerubungi bunga sebelum menjadi buah. Namun, dengan ilmu yang ditularkan dari petani lainnya juga penyuluhan dari Pokdarwis, kendala itu bisa dihindari. 

"Caranya, setelah mentil (buah Belimbing yang masih kecil), harus dibungkus dengan plastik, kemudian setelah besar dan dipetik baru plastik nya dibuka, dan siap dijual," tuturnya.

Lahan banjir berbuah manis

Semua perubahan tersebut diawali tahun 2000, warga dengan berbagai pengalaman dan beberapa kali uji coba para sesepuh desa pendahulunya, berhasil menanam Belimbing dengan aneka jenis. 

Para sesepuh yang berjasa mencari bibit dan puluhan kali melakukan uji coba menanam Belimbing, kemudian berbuah manis keberhasilan mengangkat ekonomi masyarakatnya, hingga sekarang.

"Awalnya, perintis yang menanam Belimbing di lahan ini adalah Mbah Nyoto, Mbah Abdul Gani, Mbah Ngusman, Sunyoto, dan Mbah Zainuri. Semua sesepuh sudah almarhum, tinggal Mbah Zainuri. Mereka para sesepuh yang mengawalinya, menanam Belimbing," ujar Ketua Pokdarwis, Priyo Sulistyo. 

Dinukil kembali cerita yang pernah didengar dari sejumlah warga pendahulunya, bahwa dahulu di tahun 1984, sejumlah orang sesepuhnya ada yang termotivasi dan ingin meniru keberhasilan orang lain, warga Desa Siwalan di Kabupaten Tuban yang berhasil, dan menjadi kaya dengan membudidayakan tanaman belimbing.

"Mereka, terinspirasi dari warga Tuban dengan menanam Belimbing bisa menjadi kaya, dan bisa menunaikan ibadah haji," cerita Priyo.  Kemudian, mereka mencari dan terus mencoba sejumlah jenis belimbing untuk ditanam di pekarangan rumah, tegalan dan lahan-lahan kosong di sekitar Desa Ngringinrejo, tempat bermukim mereka. 

"Tidak hanya Belimbing, bibit tanaman Jambu dan Pisang juga di coba untuk ditanam," ucap Priyo. Singkat cerita, buah Belimbing yang dihasilkan melimpah. Dan, bisa menjual atau melayani pesanan ke daerah lain, ke Surabaya, Tuban, juga Semarang.

Pikiran cerdas pun terus dilakukan, selain menanami semua lahan dengan Belimbing. Dan di setiap acara berkumpul dilakukan rembuk warga, kemudian ditempuh jalan, membuat areal desa tersebut menjadi lokasi wisata. 

"Kemudian, kita buat desa ini menjadi areal wisata kebun, pengunjung bisa memetik Belimbing secara langsung, ditimbang baru dibayar," kata dia.

Seiring dengan waktu, kini areal kebun Belimbing di desa itu menjadi seluas 20,4 hektare, dengan sekitar 250 pohon, milik 104 orang pemilik tanah atau areal kebun Belimbing. Dan, setiap pohon bisa terus berbuah sampai 30 kilogram, sepanjang tahun.

Ditambahkan, hal serupa, yakni menanami pekarangan dan ladang dengan pohon Belimbing kini juga diikuti oleh masyarakat tetangga desanya, yakni Desa Mojo, di lahan yang kini mencapai seluas 15 hektare. 

"Tetapi, umumnya pengunjung datang ke sini, untuk berwisata dan menikmati petik Belimbing," ujar Priyo. Sejak difungsikan menjadi areal wisata petik Belimbing ekonomi warga setempat terus merangkak, jadi membaik. 

Sebelumnya, buah Belimbing hasil panen saat dijual dengan cara tradisional hasilnya tidak seberapa banyak. Bahkan, ongkos kirim juga ikut memengaruhi perolehan uang hasil penjualan.

Harga jual dengan cara tradisional di kisaran Rp5.000 sampai Rp7.000 per kilogram. Namun, setelah desanya menjadi areal wisata, harga jual Belimbing terdongkrak menjadi Rp10 ribu untuk setiap kilogramnya.

"Pengunjung juga bisa menikmati pemandangan desa dan petik Belimbing langsung di kebun. Sebaliknya, desa dan masyarakat di sini diuntungkan, karena bisa berjualan lainnya," tutur Priyo.

Membanjirnya pengunjung ke desanya, selain untuk berwisata dan petik Belimbing juga tengah dikembangkan bentuk permainan alam. Seperti tengah dirintis permainan flaying fox, dan ragam permainan lainnya untuk anak-anak.

Untuk masuk ke lokasi wisata petik buah Belimbing di Desa Ngringinrejo ini, pengunjung hanya dipungut Rp2.000, itu untuk kas desa, yang kemudian dimanfaatkan untuk membangun toilet. 

Bantuan mulai datang 

Potensi yang mulai moncer dengan wisata petik Belimbing ternyata tidak disia-siakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Jalan desa yang kini menjadi jalan penghubung ke petak-petak kebun Belimbing sudah dipasang beton blok. 

"Jadi tidak becek lagi, karena ada bantuan paving blok, dari Kabupaten," kata Priyo. Dampaknya, pengunjung pun terus melimpah. 

Ia mengatakan, setiap hari ada saja rombongan atau perorangan wisatawan yang masuk areal perkebunan Belimbing tersebut. Apalagi saat Sabtu, Minggu dan hari-hari besar lain, termasuk saat tahun baru dan Lebaran.

"Pernah tercatat mendapat Rp180 juta sehari, tahun lalu," ujar Kades Desa Ngringinrejo, M Syafii yang saat itu ikut menemani. 

Meski menjadi lebih baik, khususnya untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat, Priyo dan rekan-rekannya pengurus Pokdarwis dan masyarakat desa tersebut membuka lebar saran dan masukan untuk menjadi lebih baik.

"Kami sadar, yang kami lakukan bersama warga desa di sini belum sempurna, kami membuka diri untuk saran dan masukannya," kata Priyo.

Diakui, salah satunya pemberdayaan khususnya untuk para pemuda, yang dia sebutkan bisa memanfaatkan peluang mencari penghasilan di lokasi wisata tersebut.

Misalnya dengan membuat pernak-pernik untuk oleh-oleh. Seperti gantungan kunci, kaus salon bergambar Wisata Petik Belimbing atau bentuk hiasan lainnya.

"Itu yang sekarang menjadi pikiran saya dan teman-teman. Anak-anak muda di desa ini belum tergerak, padahal alat dan juga pelatihan telah disiapkan," ujarnya sedih.

Dia berharap, anak-anak muda di desanya tanggap, tidak terlena, dan bisa memanfaatkan alam desanya yang mulai didatangi banyak orang, dari berbagai daerah itu.

Sebelumnya, di Pendopo Kabupaten Bojonegoro, Bupati Suyoto atau akrap disapa Kang Yoto menyampaikan moto wilayah yang dipimpinnya yakni, "Lampaui Batas Maksimalmu". 

Menurutnya, dengan kekayaan alam Bojonegoro sangat luar biasa, Bojonegoro mampu bangkit dan memiliki impian menjadi lumbung pangan dan energi negeri.  "Bojonegoro Matoh" itulah semangat kami," kata Kang Yoto.. 

Salah satu unggulan adalah lokasi wisata Kebun Belimbing, lahan agro wisata yang diresmikan bertepatan dengan Anugerah Wisata Jatim 2014, sebagai objek wisata lokal. 

"Daerah itu selalu menjadi langganan banjir karena luapan Bengawan Solo, tetapi sekarang telah berubah, menjadi argowisata," kata Kang Yoto.

Saat ini, pohon Belimbing di tempat itu kian dikembangkan diantaranya ada Belimbing Madu, yang juga bisa dinikmati berupa sirup Belimbing. Olahan ainnya yang tengah dikembangkan adalah keripik dan dodol Belimbing. Serta jenis Belimbing Demak, dan Blitar yang disesuaikan dengan tanah desa tersebut.

Dan, lokasi wisata Kebun Belimbing itu, di delapan bulan terakhir telah didatangi lebih dari 80 ribu orang pengunjung. Sebelumnya, sampai sebanyak 110 ribu orang, termasuk wisatawan mancanegara, tamu pemerintahan daerah setempat.

Kang Yoto menyebut, kisah Bojonegoro sejak dahulu berani menghadapi masalah, berani bermimpi dan berani melakukan perubahan menuju hal positif.

"Birokrasi Kabupaten Bojonegoro adalah pilot project di tingkat internasional. Tidak mudah mengubah semua itu, namun semua dikelola dengan baik. Sejarah membuktikan, keterbatasan menghasilkan karya besar, namun keberlimpahan akan malah meninabobokan," kata Kang Yoto. 
 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP