TUTUP
TUTUP
BISNIS

Teknologi Jalla Dipacu Segera Berkontribusi

Teknologi jaring laba-laba digunakan dalam proyek infrastruktur jalan.
Teknologi Jalla Dipacu Segera Berkontribusi
Ilustrasi proyek jalan. (VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi)

VIVA.co.id – Menteri Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), Mohamad Nasir berharap teknologi Jalla (jaring laba-laba) inovasi karya anak bangsa dapat segera berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur jalan.

"Teknologi karya bangsa, seperti Jalla ini sudah teruji memiliki kualitas yang tidak kalah dengan teknologi jalan lainnya. Seharusnya dapat diaplikasikan untuk pembangunan jalan di Indonesia," kata Menteri Nasir, seperti dikutip dalam keterangan tertulis, Kamis, 22 September 2016.

Selain Menteri Nasir, hadir dalam peresmian Global Innovation Forum di Puspiptek Serpong Tangerang Selatan, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dan Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany,

Menurut Nasir, dalam membangun jalan, bukan sekadar melihat harganya yang mahal, tetapi yang juga harus diperhatikan usia penggunaan dan kekuatannya. Kalau melihat hasil uji teknis yang sudah dilaksanakan, seharusnya teknologi ini dapat segera diaplikasikan.

Menteri Nasir berharap, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dapat segera menggandeng teknologi Jalla untuk pembangunan jaringan jalan di Tanah Air. Apalagi beberapa BUMN karya sudah memproduksi masal konstruksi ini.

Pemegang paten Jaring Laba-Laba, PT Katama Suryabumi, telah berkerja sama dengan BUMN Karya untuk memproduksi beton pra cetak untuk konstruksi ini, sehingga memudahkan dalam pengaplikasian di lapangan.

PT Katama bersama dengan sejumlah perusahaan menggelar pameran dan klinik bisnis bertempat di Puspiptek Serpong dalam kegiatan Global Innovation Forum untuk memperkenalkan produk karya anak bangsa kepada masyarakat dan kalangan bisnis.

Kepala Pemasaran Katama Agus B. Sutopo mengatakan, teknologi Jalla merupakan pengembangan Konstruksi Sarang Laba-Laba yang diperuntukan bagi jalan dan pergudangan.

Sedangkan Konstruksi Sarang Laba-Laba selama ini dikenal sebagai konstruksi ramah gempa yang banyak diaplikasi pada bangunan-bangunan di daerah gempa seperti Aceh dan Padang.

Jalla termasuk dalam perkerasan beton yang diperkaku menggunakan sirip tipis dan buhul dari beton pracetak yang disusun tegak membentuk segitiga sama sisi.

Kemudian, di antara sirip tipis tersebut, diisi dengan tanah pasir yang dipadatkan, barulah kemudian di atasnya dicor beton.

Saat ini, konstruksi sarang laba-laba sudah banyak diaplikasi untuk bangunan bertingkat seperti pergudangan, rumah sakit, hotel, perkantoran, tempat olah raga.

Sedangkan untuk teknologi, Jalla sudah diaplikasikan untuk perkerasan lapangan udara dan jalan dengan kondisi tanah gambut di Dumai, kondisi tanah lunak di Pontianak, serta tanah kembang susut di Bojonegoro.

Dengan kekuatannya tersebut, Jalla cocok diaplikasikan untuk jalan arteri karena minim perawatan. Teknologi ini juga cocok untuk pabrik, kilang minyak, pergudangan, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany mengatakan, pihaknya telah berkerja sama dengan Puspiptek Serpong untuk mengaplikasikan seluruh karya inovasi anak bangsa, agar dapat diaplikaskan di wilayahnya. Termasuk dalam hal pembangunan infrastruktur.

"Biasanya, mereka yang melakukan uji terhadap teknologi yang akan dipergunakan sebelum kemudian diaplikasikan di tempat kami," kata Airin.

Konstruksi sarang laba-laba juga telah dipergunakan untuk pondasi beberapa gedung perkantoran di wilayah kota Tangerang Selatan. (ase)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP