TUTUP
TUTUP
BISNIS

SMF Akan Rilis Produk Pembiayaan Perumahan

Kebutuhan rumah di Indonesia mencapai 1.465.000 per tahun.
SMF Akan Rilis Produk Pembiayaan Perumahan
Contoh Rumah Kemenpera (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVA.co.id – Kebutuhan rumah di Indonesia terus mengalami meningkat karena jumlah penduduk Indonesia yang sudah mencapai 252,2 juta dengan indeks pertumbuhan 1,41 persen per tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2014, kebutuhan rumah di Indonesia mencapai 1.465.000 per tahun. 

Dengan asumsi harga rumah 200 juta per unit, untuk memenuhi kebutuhan rumah yang mencapai 1,46 juta rumah per tahun, maka dibutuhkan pembiayaan perumahan sebesar Rp292 triliun per tahun. Menyikapi permasalahan ini,  PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF berani mengeluarkan produk pembiayaan perumahan yang akan menyasar segmen kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di luar segmentasi KPR perbankan.

“Kami akan menjadi agen dalam menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bertajuk KPR Sejahtera SMF kepada bank pembangunan daerah dan perusahaan pembiayaan, “ ujar Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo, Selasa, 27 September 2016.

Produk baru ini akan diluncurkan pada awal 2017 dan akan menggandeng empat bank pembangunan daerah yakni Bank Sumut, Bank Sulselbar, Bank Sultra, Bank NTT, Bank NTB, dan Bank Jateng sebagai permulaan. Selanjutnya, lanjut Ananta, SMF menargetkan seluruh BPD akan diikutsertakan dalam menyalurkan produk KPR sejahtera ini.

Selain itu, produk KPR ini juga akan fokus pada pembangunan di luar Pulau Jawa dengan memproduksi rumah dengan nilai sekitar Rp300 juta. Sedangkan untuk suku bunga yang ditawarkan kemungkinan bisa sama dengan bunga KPR bank non-FLPP.

Sebelumnya, SMF juga sudah meluncurkan sistem informasi yang menyuguhkan data dan informasi terkait pasar perumahan, serta pembiayaan perumahan di Indonesia yang diberi nama Housing Finance Information System. 

Sistem informasi terkait pasar dan pembiayaan perumahan di Indonesia yang masih sangat minim dan terbatas menjadi alasan.  Selain itu, sistem yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat juga terus meningkat.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP