TUTUP
TUTUP
BISNIS

Pertumbuhan Ekspor Makanan Minuman RI Masih Lambat

Hingga Juli, baru mencapai US$3,3 miliar.
Pertumbuhan Ekspor Makanan Minuman RI Masih Lambat
Produk minuman siap ekspor. (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVA.co.id – Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) menyatakan pertumbuhan ekspor makanan dan minuman (mamin) tumbuh kurang memuaskan. Target nilai ekspor mamin 2016 sebesar USD6,6 miliar atau naik 10 persen dari capaian 2015 US$6 miliar. Hingga Juli, diketahui baru mencapai US$3,3 miliar.

Ketua Umum Gapmmi, Adhi Lukman, menyatakan meski ekspor mamin 2016 tumbuh lambat, tapi defisit dari nilai ekspor dan impor lebih mengecil. Nilai impor mamin hingga Juli dicatat mencapai US$3,55 miliar.

"Kalau baru US$3,3 miliar sampai Juli, kemungkinan agak sedikit naik. Tapi, yang agak bagus balance sheet-nya mengecil, sampai Juli kemarin defisitnya sekitar US$250 juta. Sudah ada kemajuan," ungkap Adhi di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia Jakarta, Kamis, 29 September 2016.

Sementara pertumbuhan mamin untuk domestik, ia masih optimistis pertumbuhan total hingga akhir tahun delapan persen, yang biasanya sekitar tujuh persen. Dengan rincian KW II 8,2 persen dan KW I 7,55 persen.

Salah satu hambatan pertumbuhan ekspor mamin, diungkapkannya, karena adanya perubahan aturan di beberapa negara tujuan, seperti aturan registrasi dan pelabelan komposisi bahan (ingredients) mamin.

"Penyesuaian cukup lama, karena harus ganti ingredients, dicoba dulu ingredients. (Kalau) cocok, submit sampel, baru cetak. Kesulitan UKM (Usaha Kecil Menengah) jumlah kecil-kecil kesusahan. Perusahaan besar masih berani paruhan, tapi UKM suruh pesan kemasan segitu besar kan kasihan," ujarnya.

Pada 2016, negara-negara pasar ekspor Indonesia yang mengalami perubahan di antaranya China, Kanada, Korea Selatan, Australia. Ia mengungkapkan, di China produksi mamin Indonesia sempat dikembalikan dan untuk jangka waktu tertentu tidak boleh masuk China karena ada perubah aturan ingredients.

"Antar negara ASEAN saja lama sekali. Kita mau ke Myanmar, Filipina setahun lebih. Kita keluhkan ke pemerintah, ngeluh ke BPOM (Badan Pengawas Obat dan Minum) lama. Ke sana (negara tujuan ekspor) lebih lama lagi," ungkapnya.

 

(ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP