TUTUP
TUTUP
BISNIS

Ekonomi Asia Tetap Kuat Ditopang Permintaan Domestik

Namun masih menghadapi berbagai risiko besar untuk tumbuh.
Ekonomi Asia Tetap Kuat Ditopang Permintaan Domestik
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi China. (TheRichest.com)

VIVA.co.id – Pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang kawasan Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan akan tetap bertahan dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Ini ditopang oleh permintaan domestik yang tetap kuat. Kendati demikian, kawasan tersebut masih menghadapi berbagai risiko besar untuk tumbuh.

Demikian hasil laporan terkini Bank Dunia tentang Perekonomian Asia dan Pasifik, Rabu 5 Oktober 2016. Ulasan tersebut menyebutkan, sejumlah negara perlu mengambil berbagai langkah untuk mengurangi kerentanan finansial dan fiskal.

Wakil Presiden Bank Dunia Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Victoria Kwakwa mengatakan, negara-negara harus mengatasi rintangan terhadap pertumbuhan inklusif yang berkesinambungan, dengan memenuhi kesenjangan infrastruktur, mengurangi malnutrisi, dan memperkuat inklusi keuangan dalam jangka panjang.

Laporan tersebut memperkirakan, Tiongkok masih akan terus melakukan transisi ke pertumbuhan yang lebih lamban, namun lebih berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok diprediksi semakin lambat dari 6,7 persen tahun ini, ke 6,5 persen di tahun 2017, dan 6,3 persen di tahun 2018.

Sementara untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Pasifik, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan akan stabil di angka 4,8 persen pada tahun ini, tumbuh ke lima persen di tahun 2017, dan 5,1 persen di tahun 2018. Secara keseluruhan negara berkembang d Asia Timur diperkirakan tumbuh 6,8 persen tahun ini, dan 5,7 persen pada rentang tahun 2017-2018.

“Proyeksi kawasan berkembang Asia Timur dan Pasifik tetap positif. Melemahnya pertumbuhan global dan permintaan eksternal bisa diimbangi oleh konsumsi domestik dan investasi yang kuat,” ujar Kwakwa, Rabu 5 Oktober 2016.

Kendati demikian, menurut Kwakwa, permintaan domestik akan tetap kuat di hampir seluruh kawasan. Harga komoditas yang terus menurun akan menguntungkan importir komoditas, dan menjaga laju inflasi tetap rendah di hampir semua kawasan.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP