TUTUP
TUTUP
BISNIS

Darmin Pertanyakan Model Penelitian Bank Dunia dan IMF

Perhitungan mereka berbeda dengan pemerintah.
Darmin Pertanyakan Model Penelitian Bank Dunia dan IMF
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. (Chandra G Asmara / VIVA.co.id)

VIVA.co.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mempertanyakan model penelitian yang digunakan sejumlah lembaga internasional seperti Bank Dunia maupun Dana Moneter Internasional (IMF), dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Baru-baru ini, Bank Dunia baru saja mengeluarkan laporan terbarunya tentang Perekonomian Asia Timur dan Pasifik. Dalam laporan tersebut, lembaga internasional itu memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 mendatang berada di kisaran 5,5 persen.

"Mereka itu membuat model logika umum saja. (Saya) enggak (sepakat dengan proyeksi mereka)," ungkap Darmin di Jakarta, Rabu 5 Oktober 2016.

Menurut Darmin, Indonesia di mata dunia dikenal sebagai negara dengan penghasil bahan mentah, maupun dari hasil pertambangannya. Ketika harga komoditas terjun ke bawah, maka otomatis tiang penyangga perekonomian pun akhirnya berimbas.

Landasan tersebut, kata Darmin, akhirnya dipergunakan oleh sejumlah lembaga internasional untuk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi. Mantan Direktur Jenderal Pajak itu pun tak sepakat dengan proyeksi yang disampaikan ke publik, .

"World Bank maupun IMF  bisa punya model sendiri. Kami juga ada model sendiri dalam menghitung," katanya.

Bahkan, Darmin pun ikut menyindir hasil laporan Indeks Daya Saing Global yang baru-baru ini dirilis Forum Ekonomi Dunia (WEF). Dalam laporan tersebut, peringkat daya saing Indonesia dari 138 negara merosot ke peringkat 41 tahun ini dari tahun lalu di peringkat 37. 

"Mereka mengukur dari sisi rakyat Indonesia yang mayoritas berpendidikan SD. Kesehatan juga tidak bagus. Dari dulu kami juga tahu. Tapi kok tiba-tiba bisa turun jauh. Memang buruk? Tidak juga," tegasnya.

Darmin mengungkapkan, pemerintah masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan akan berada sesuai dengan fundamental perekonomian yang sebenarnya. Karena itu, proyeksi-proyeksi tersebut diharapkan tidak menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap ekonomi nasional.

"Jangan terlalu risau. Dia (World Bank, IMF, WEF) tidak lebih tahu ekonomi Indonesia," tegasnya.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP