TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
BISNIS

Proyek Infrastruktur Genjot Produksi Baja

Program pembangunan nasional jadi prioritas pemerintah.
Proyek Infrastruktur Genjot Produksi Baja
industri baja (tc.umn.edu)

VIVA.co.id – Program pembangunan nasional yang diusung pemerintah mendorong kebutuhan hasil industri baja nasional di tengah kondisi ekonomi dan isu regulasi energi.

"Di tengah kebangkitan infrastruktur di Indonesia, industri logam, dan pengecoran logam perlu berpikir maju untuk memanfaatkan peluang yang ada," kata Ketua Asosiasi Industri Pengecoran Logam Indonesia (APLINDO) Achmad Safiun di Hotel Pullman Jakarta pada Selasa 11 Oktober 2016.

Pembangunan proyek infrastruktur memberikan tren positif dalam penjualan baja. Proyeksinya hingga akhir 2016 penjualan sebanyak 15 juta ton. Sementara, produk domestik bruto, atau gross domestic bruto (GDP) Indonesia akan tumbuh lima persen per tahun, sampai tahun 2020, berkat pertumbuhan yang kuat pada permintaan konsumen dan investasi infrastruktur.

Sejalan dengan Safiun, Presiden Gabungan Asosiasi Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA) Dadang Asikin menyebutkan, selain sektor infrastruktur, sektor pembangunan energi listrik 3.000 ribu megawatt yang digenjot pemerintah meningkatkan konsumsi baja.

"Semua pembangunan (infrastruktur dan energi) terdiri dari baja. Konsumsi untuk kilang, industri plan, jembatan terdiri dari baja," ujar Dadang. 

Keduanya, menyatakan pemerintah yang menggenjot percepatan industri infrastruktur dan energi sangat membuka kesempatan untuk industri baja.

Kemudian, pameran dagang logam dan baja Indometal 2016 yang akan berlangsung pada 25 hingga 27 Oktober 2016, Safiun mengatakan akan menjadi ajang pertukaran pengetahuan dan kerja sama baru untuk memfasilitasi inisiatif pengembangan solusi pengolahan logam, baja, dan logam besi maupun non-besi.

Indometal 2016 tersebut berfokus pada afiliasi saling bersinergi antara teknologi pengecoran logam, produk cetak, metalurgi, dan teknologi termoproses, serta sinergi dengan apa yang sedang menjadi tren di sektor baja, alumunium, tembaga, kobal, nikel, dan logam lain di Indonesia dan Asia Tenggara. (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP