Boeing dan Airbus Alami Penurunan Pendapatan

Pesawat Boeing
Sumber :
  • REUTERS/Matt Mills McKnight

VIVA.co.id – Dua perusahaan produsen pesawat terbesar dunia, yakni Boeing dan Airbus, mengalami penurunan pendapatan imbas dari perlambatan ekonomi dunia. Pendapatan Boeing tergelincir 7,5 persen menjadi US$23,9 miliar, sedangkan rivalnya Airbus alami penurunan pendapatan sebesar 21 persen pada kuartal ketiga tahun ini.

Kontroversi Boeing 737 Max yang akan Dipakai Lagi oleh Indonesia

Dilansir BBC, Kamis, 27 Oktober 2016, pendapatan Boeing jatuh karena perusahaan menghentikan produksi pesawat transportasi C-17. Boeing juga mengharapkan pendapatan akan datar atau turun sedikit pada tahun depan di saat transisi varian baru pesawat Boeing 777.

Chief Financial Officer Boeing Greg Smith mengatakan, Boeing berencana memangkas produksi pesawat 777 menjadi hanya tujuh pesawat per bulan dari 8,3 persen per bulan.

Boeing 737 Max Diizinkan Lagi Beroperasi? Ini Penjelasan Kemenhub

Meski pendapatan Boeing menurun permintaan pesawat tetap kuat. Boeing akan mengirim sekitar 745-750 pesawat komersial, tapi masih lebih rendah dibanding tahun lalu dengan penjualan mencapai 762 pesawat. Sedangkan laba Boeing mengalami kenaikan sepertiga menjadi US$2,3 miliar.

Sementara Airbus melaporkan, kinerja keuangan terburuk pada kuartal ketiga tahun ini. Selain pendapatan menurun, laba perusahaan Prancis itu anjlok 87 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi US$56 juta.

Ibarat Infinity War, Erick Thohir Sebut Dunia Butuh Avengers

Penurunan ini karena masalah-masalah di divisi luar angkasa dan pertahanan Airbus yang mengalami penurunan omzet 20 persen. Perusahaan menargetkan pengiriman lebih dari 670 unit pesawat pada tahun ini, tapi baru terkirim 462 pesawat hingga September lalu.

Direktur Keuangan Airbus, Harald Wilhelm, mengakui masih banyak hal yang harus dilakukan untuk mencapai target tersebut.

Ilustrasi pantauan penerbangan dari ATC.

Kolaborasi INACA dan Boeing Genjot Industri Penerbangan 2022

Industri penerbangan domestik Indonesia diperkirakan akan mulai bergeliat tahun ini dan pulih sepenuhnya pada 2024.

img_title
VIVA.co.id
12 Januari 2022