TUTUP
TUTUP
BISNIS

Kerajinan Kulit Kayu dari Lembah Bada Poso

Effan dan istri membuat kerajinan ini menjadi terkenal.
Kerajinan Kulit Kayu dari Lembah Bada Poso
Kerajinan dari kulit kayu  (Shintaloka Pradita Sicca / VIVA.co.id )

VIVA.co.id – Berjalan-jalan ke Lembah Bada, Kabupaten Poso, membawa Effan Adhiwira (34) dan istrinya Novieta Tourisia (28) ke sebuah warisan budaya potensial bernilai jual.

"Pada 2013 kita bertemu dengan perajin kain kayu di Lembah Bada untuk pertama kalinya. Di sana kita bertemu dengan ibu-ibu setempat yang membuat kain," ceritanya kepada VIVA.co.id, belum lama ini.

Sebagai seorang arsitek, Effan menilai bahwa kain kayu ini potensial untuk dikembangkan, selain kain kulit kayu ini hanya dijadikan pakaian saat upacara adat. Mereka pun bertanya kepada penduduk setempat. "Istri saya yang aktif di sana tanya ke masyarakat kenapa enggak diproduksi lebih inovatif. Mereka menganggap enggak ada nilai komersialnya, tidak keren," tuturnya.

Mereka kemudian meminta izin untuk kain kayu tersebut diolah lebih bernilai jual. Keduanya membawa bahan tersebut ke Bali dan mendesainnya dibantu oleh kawan-kawan perajinnya agar lebih bercitarasa modern kontemporer.

Setelah jadi mereka kemudian membawa hasilnya ke Poso untuk memperlihatkan hasil inovasi yang dapat bernilai jual. "Ini lho bahanmu (kain kulit kayu yang dibuat perajin Poso) kemarin yang kamu olah, dikemas lebih modern bisa jadi ini," ujar Effan

Ia mengungkapkan setelah mengetahui potensinya, tidak hanya ibu-ibu yang antusias untuk memproduksi kain kulit kayu, namun, anak-anak muda juga  berpartisipasi membuat kain kulit kayu. 

"Selama tiga tahun kita dorong mereka untuk mencoba membuat bahannya lebih konsisten, karena ini kan ditumbuk manual jadi ketebalannya kadang beda. Ada yang sudah keropos juga," ujarnya.

Kain kulit kayu di tangan dingin Effan dan istri didesain menjadi berbagai jenis bentuk, seperti tas tangan, dompet, tas laptop. Baru pada 2016 Effan secara resmi mengeluarkan produk dari kain kulit kayu ini dengan nama brand Fuyu, yang dalam bahasa Sulawesi artinya kulit kayu.

Agar lebih variasi warna, kulit kayu dicampur batang pohon limbi menghasilkan warna merah. Kuning dicampur kunyit, biru dengan dicampur tanaman indigo. Warna natural coklat dari kulit pohon beringin dan putih dari kulit pohon mulberi.

Produk Fuyu ini dijual mulai dari harga sekitar Rp100 ribu. Sejauh ini, penjualan dilakukan melalui online dan pameran yang diikuti. "Kita sudah sampai ke Landon, Singapura.  Orang Indonesia banyak yang suka. Orang luar negeri yang mengapresiasi juga oke," ungkapnya.

Masih berjalan satu tahun, sehingga menurutnya masih banyak hal yang perlu  disiapkan, pelajari, terutama selera pasar. Omzetn belum dapat diperhitungkan pasti. Sementara, produksinya dalam sebulan masih sekitar 20 item tergantung pesanan dan momen bereksperimen.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP