TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
BISNIS

Status Hak Pakai Properti Ekspatriat Perlu Pembenahan

Regulasi tersebut dianggap tertinggal.
Status Hak Pakai Properti Ekspatriat Perlu Pembenahan
Pameran properti (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVA.co.id – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Jalil mengatakan, sesuai peraturan menteri Agraria dan Tata Ruang/kepala BPN Nomor 29 Tahun 2016, maka kepemilikan rumah tempat tinggal atau hunian bagi orang asing atau ekspatriat hanya diberikan dalam bentuk Hak Pakai.

Sofyan menegaskan itu dalam acara focus group discussion tentang “Kepastian Implementasi Kebijakan Kepemilikan Properti oleh Orang Asing”, yang digelar oleh asosiasi pengembang perumahan Real Estate Indonesia (REI).

"Untuk properti bagi orang asing, sesuai undang-undang maka hanya akan kami berikan hak pakai," kata Sofyan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin 31 Oktober 2016.

Dia menjelaskan, status kepemilikan sebuah properti itu tergantung pada siapa subjeknya. Hak milik sebuah properti oleh masyarakat lokal bisa berubah menjadi hak pakai, jika dibeli oleh orang asing.

"Kalau misalnya apartemen saya hak milik, lalu saya jual ke orang asing, maka statusnya adalah hak pakai. Lalu, jika dijual lagi ke WNI (Warga Negara Indonesia), statusnya kembali lagi jadi hak milik. Jadi, sesuai subjeknya saja," tuturnya.

Sofyan menambahkan, ketentuan ini berada dalam kewenangan Imigrasi, karena siapa saja orang asing yang boleh atau tidak memiliki properti di Indonesia ditentukan oleh instansi itu.

Selain itu, dia mengatakan, di Indonesia, regulasi terkait hal ini masih memerlukan sejumlah pembenahan, karena dianggap masih tertinggal.

"Kami tidak menentukan siapa yang boleh atau tidak untuk memiliki properti. Yang menentukan adalah keimigrasian. Siapa yang diperbolehkan itu tergantung kebijakan di Imigrasi," kata Sofyan.

"Karena peraturan-peraturan itu, salah satu fungsinya adalah agar tujuan kita tercapai, dan kini UU kita harus mengejar ketertinggalan mengenai regulasi terkait hal ini," ujar mantan kepala Bappenas itu.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP