TUTUP
TUTUP
BISNIS

Alergi Investasi di Daerah, Hambat Penciptaan Lapangan Kerja

Banyak aturan daerah yang masih menjadi hambatan dalam investasi.
Alergi Investasi di Daerah, Hambat Penciptaan Lapangan Kerja
Pabrik Sritex. (U-Report)

VIVA.co.id – Dalam diskusi bertajuk 'Tantangan Penciptaan Dua Juta Lapangan Kerja yang Baik, atau Decent Job', Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, langkah kongkret yang harus dilakukan adalah menciptakan lapangan kerja dengan menarik investor sebanyak-banyaknya ke dalam negeri.

"Kalau kita ingin mencapai target dua juta lapangan kerja per tahun, maka kita harus menggenjot investasi. Maka perekonomian Indonesia harus bisa menarik investor," kata Bambang di kantor Bappenas, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa 1 November 2016.

Namun, Bambang juga menyayangkan sejumlah hal, yang diakuinya kerap menjadi penghambat bagi masuknya investor untuk menanamkan modalnya di Tanah Air.

"Terlalu banyak variabel aturan yang membuat investor ragu masuk ke Indonesia," ujarnya.

Selain itu, Bambang pun mengakui, masih banyak daerah di Indonesia, yang masyarakat dan pemerintah daerahnya terkesan alergi, dengan masuknya upaya-upaya investasi ke wilayah mereka.

Padahal, hal ini sangat berpotensi menciptakan lapangan-lapangan kerja baru, yang bisa memberdayakan masyarakat dan meningkatkan perekonomian di daerah tersebut.

Karenanya, Bambang meminta kepada para kepala daerah dan jajaran pemerintahannya, agar lebih peduli terhadap upaya-upaya penciptaan lapangan kerja melalui masuknya investasi ke daerah mereka tersebut.

Diharapkan, upaya pemerintah dalam mengajak investor masuk ke Indonesia, demi memperbesar peluang terciptanya lapangan pekerjaan, bisa bergaung sampai ke daerah dan dipahami oleh masyarakat sebagai potensi meningkatkan perekonomian mereka di wilayahnya.

"Maka kita harapkan, gemanya ini bisa sampai ke daerah, agar mereka bisa berpikir juga mengenai bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan yang baik bagi masyarakat di sana," jelas Bambang. (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP