TUTUP
TUTUP
BISNIS

Harga Beras Naik, Nilai Tukar Petani Malah Turun

BPS menyatakan inflasi tetap terkendali.
Harga Beras Naik, Nilai Tukar Petani Malah Turun
Pedagang beras di pasar Cipinang (Ade Alfath/VIVA.co.id)

VIVA.co.id – Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto, mengungkapkan harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp9.133 per kilogram atau naik 0,24 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp8.981 per kg, naik 0,17 persen. Sedangkan rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp8.597 per kg atau naik 0,23 persen.

Sementara, harga gabah kering panen di petani, mengalami kenaikan 0,4 persen selama Oktober 2016 menjadi Rp4.555 per kg, sedangkan gabah kering giling naik 0,51 persen menjadi Rp5.312 per kg. Harga gabah kualitas rendah juga mengalami kenaikan 0,85 persen menjadi Rp4.111 per kg.

"Tentunya ini menggembirakan, ada kenaikan di level petani dan penggilingan. Namun harga di level grosir mengalami penurunan dan beras eceran sedikit naik. Kita tahu bobot beras di inflasi cukup tinggi, dan ini terkendali," ujarnya di kantornya, Jakarta, Selasa, 1 November 2016.

Suhariyanto juga mengungkapkan, nilai tukar petani nasional pada Oktober 2016 sebesar 101,71 atau turun 0,30 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. "Penurunan NTP dikarenakan indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,22 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,07 persen," tuturnya.

Pada Oktober 2016, NTP Provinsi Sulawesi Utara mengalami penurunan terbesar (1,34 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sulawesi Barat mengalami kenaikan tertinggi (1,09 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.

Sementara, nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) nasional Oktober 2016 sebesar 110,26 atau turun 0,40 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Pada Oktober 2016 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,04 persen disebabkan oleh naiknya enam dari tujuh indeks kelompok konsumsi rumah tangga, dengan kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok makanan sebesar 0,37 persen.

"Ini karena indeks harga yang dibayar petani naik seperti upah buruh, sewa lahan, dan ongkos angkut membuat petani tidak mampu mengkompensasi yang diterima. Dan hampir seluruh subsektor mengalami penurunan NTUP kecuali tanaman perkebunan," ujarnya.

 

(ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP