TUTUP
TUTUP
BISNIS

Trump Terpilih Jadi Presiden AS, IHSG Anjlok

Hasil pemungutan suara AS di luar ekspektasi pasar keuangan nasional.
Trump Terpilih Jadi Presiden AS, IHSG Anjlok
Investor sedang mengamati papan IHSG di Bursa Efek Indonesia.  (VIVA.co.id/Muhamad Solihin)

VIVA.co.id – Indeks harga saham gabungan ditutup melemah 1,03 persen atau 56,36 poin ke level 5.414,32 pada penutupan perdagangan saham hari ini. IHSG bergerak pada kisaran 5.345,13-5.491,70 diselimuti sentimen politik dinamika pemungutan suara di AS yang dimenangkan Donald Trump dari Partai Republik. 

Analis Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, mengatakan, merahnya perdagangan saham di Tanah Air karena terpilihnya Donald Trump di luar ekspektasi pasar keuangan yang lebih berpihak kepada Hillary Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat. 

"Pasar keuangan berharap Hillary Clinton yang menang. Ketika Hillary terkait kasus penggunaan email pribadi itu, pasar bergerak turun, Indonesia juga, meski masih kuat. Kemudian, ketika FBI (Federal Bureau of Investigation) menyatakan Hillary tidak bersalah, pasar kembali naik, ini menandakan banyak orang pro kepada Hillary," ujarnya kepada VIVA.co.id di Jakarta, Rabu, 9 November 2016.

Namun, Hans menilai, terpilihnya Trump sebagai presiden tidak berdampak kepada perlambatan ekonomi global secara langsung. Meskipun, pelaku pasar juga khawatir terhadap kebijakan yang diusung oleh Trump yang bisa berdampak pada perkonomian dunia, termasuk negara emerging market.

Terutama, kata Hans, kebijakan terkait penurunan pajak. Di antaranya, menjanjikan akan menurunkan pajak dalam negeri, mengurangi pajak bagi pekerja kelas menengah, dan menerapkan rate pajak yang kompetitif terhadap pebisnis agar tetap bertahan di AS.

"Ini tidak sesuai dengan kondisi perekonomian di AS saat ini," tuturnya.

Selanjutnya, kebijakan mengenai perdagangan internasional, di mana dia akan melakukan perang dagang dengan sejumlah negara, terutama Tiongkok. 

"Dia ingin bea masuk di sejumlah negara, seperti Tiongkok dan Meksiko naik. Ini bisa menyebabkan ekonomi Tiongkok melambat yang pada akhirnya melambatkan perekonomian global," tuturnya.

Sementara itu, pengaruhnya kepada pasar saham sendiri, Hans memperkirakan, penurunan ini merupakan sentimen jangka pendek.

“Pasar komoditas ikut rontok, ini bisa membuat perlambatan ekonomi global karena risiko global meningkat. Di pasar saham, investor tergerak untuk menjual dan mencari investasi yang tidak begitu berisiko," ujarnya. 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP