TUTUP
TUTUP
BISNIS

Kemenkeu: Mesir Tak Pinjam US$500 Juta dari RI

Mesir saat ini alami krisis keuangan, dengan posisi utang tinggi.
Kemenkeu: Mesir Tak Pinjam US$500 Juta dari RI
Ilustrasi dolar Amerika Serikat  (Shutterstock)

VIVA.co.id – Pemerintah Mesir dikabarkan tengah bernegosiasi dengan Indonesia, untuk mengajukan pinjaman uang sebesar US$500 juta, atau setara Rp6,6 triliun (kurs Rp13.380 per dolar AS) dalam rangka menutup defisit anggaran negara tersebut, pada akhir kuartal pertama tahun depan.

Dilansir dari dailynewsegypt, pada Selasa 15 November 2016, sumber yang berasal dari Kementerian Keuangan Mesir itu menyatakan bahwa negara tersebut tidak lagi mencari pendanaan dari negara-negara Teluk, usai menerima miliaran dolar Amerika Serikat dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait sejak 3 Juli 2013.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Pembiayaan, Pengelolaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan menegaskan bahwa sampai saat ini, pemerintah tidak pernah mendengar adanya kabar tersebut.

"Itu (kabar) dari mana sih? Sepertinya tidak ada di meja saya. Dari mana beritanya?" jelas Robert, saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa 15 November 2016.

Menurut Robert, pemerintah Indonesia tidak bisa begitu saja menyalurkan pinjaman. Selama ini, dalam kaitan pembangunan infrastruktur, mekanisme pinjaman akan terlebih dahulu diajukan kepada lembaga internasional, seperti Asian Development Bank (ADB).

"Persisnya sama siapa? Swasta, atau pemerintah? Kalau pemerintah, institusi lender-nya siapa? Kalau lender itu biasanya ADB. Tetapi, development bank di Indonesia itu belum ada," katanya.

Namun, untuk Mesir, itu menjadi cerita lain, karena pinjaman tersebut langsung dipergunakan untuk membiayai defisit anggaran. Robert menegaskan, sampai saat ini tidak ada pengajuan apapun yang dilakukan oleh pemerintah Mesir.

"Setahu saya tidak ada. Diklarifikasi dulu deh," ungkapnya.

Sebelumnya, Dekan Ekonomi dan Politik Universitas Kairo, Aliaa El-Mahdy mengatakan, terkait pinjaman Mesir kepada Indonesia dilakukan, karena situasi keuangan Mesir yang memasuki kondisi krisis, dengan utang luar negeri yang tinggi dan semakin meningkat.

Dengan keuangan yang kritis tersebut, El-Mahdy mengungkapkan, Mesir kemungkinan gagal membayar utang-utangnya, terlebih saat ini utang luar negeri negara tersebut telah mencapai US$55 miliar, atau setara Rp734,7 triliun, sehingga sangat tidak mungkin bisa membayar utang saat ini. (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP