TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
BISNIS

Kadin Khawatir Nilai Ekspor 2016 Tak Tercapai

Perjanjian bilateral perlu ditinjau ulang.
Kadin Khawatir Nilai Ekspor 2016 Tak Tercapai
Kopi yang diekspor (ANTARA/Ampelsa)

VIVA.co.id – Kamar Dagang dan Industri Indonesia menilai, perhitungan nilai ekspor terakhir pada Oktober 2016, sebesar US$12,68 miliar masih sangat jauh dari target akhir tahun sebesar US$150 miliar. 

Meski, nilai ekspor mengalami kenaikan baik dalam perhitungan bulan ke bulan (month to month/MoM) dan tahun ke tahun (year on year/YoY).

"Hal ini disebabkan oleh permintaan dunia melemah, sehingga perhitungan akhir tahun total ekspor kita tidak bisa mencapai US$150 miliar," kata Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Kadin Indonesia, Benny Soetrisno kepada VIVA.co.id, Rabu 16 November 2016.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data terakhir nilai ekspor Indonesia, yaitu pada Oktober 2016, sebesar US$12,68 miliar, atau mengalami kenaikan sebesar 0,88 persen dibandingkan ekspor pada September 2016 MoM. Jika dibandingkan dengan Oktober tahun lalu, atau YoY, naik sebesar 4,6 persen.

Benny menjelaskan, di tengah permintaan pasar dunia terhadap komoditas dalam negeri masih lemah, kemampuan kompetisi, atau daya saing produk Indonesia masih bersiap, belum cukup kuat. Sehingga, dalam situasi kompetisi harga global yang ketat, Indonesia masih kalah dengan negara daya saing industri yang sudah tinggi.

Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) yang mencatat Indeks Daya Saing Global 2016-2017 merilis bahwa daya saing Indonesia merosot dari peringkat ke-37 pada 2015 menjadi peringkat ke-41 tahun ini dari 138 negara. Sedangkan Singapura menempati posisi kedua, Malaysia di posisi 25, dan Thailand di posisi 34.

Namun, Benny mengaku optimistis pertumbuhan ekspor terus naik dan paling tidak dapat mencapai US$20 miliar-US$30 miliar dan untuk target 2017 sekitar US$170 miliar.

Disebutkan, hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai target 2017, adalah memeriksa kembali dan memperbaiki perjanjian-perjanjian perdagang bilateral dan meninjau kembali (review) perjanjian dagang regional, serta unilateral.

"Kemudian, perkuat daya saing biaya produksi manufaktur (pengolahan) dan lebih mengefisiensikan biaya-biaya logistik. Kalau tidak begitu kurang optimis," kata Benny. (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP