TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
BISNIS

Sri Mulyani Optimistis Proteksionisme Trump Tak Pengaruhi RI

Pasar perdagangan RI lebih banyak ke Singapura, China, dan Eropa.
Sri Mulyani Optimistis Proteksionisme Trump Tak Pengaruhi RI
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberi keterangan pers di Kantor Pusat Dirjen Pajak, Jakarta, Selasa (16/8/2016).  (ANTARA/Rosa Panggabean)

VIVA.co.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, proteksionisme perdagangan Presiden terpilih Amerika Serikat Donald J. Trump terhadap perjanjian perdagangan ekonomi antar negara sama sekali tidak akan memberikan dampak besar terhadap Indonesia. Dikarenakan pasar perdagangan Indonesia lebih besar ke negara-negara lain daripada AS.
 
Seperti diketahui, Trump selama masa kampanye selalu aktif melempar kritik kepada Presiden AS Barack Obama, terkait sejumlah perjanjian perdagangan bebas antar negara. Trump bahkan berencana melakukan renegoisasi kontrak kerja sama perdagangan, agar AS memiliki kendali penuh.
 
"Indonesia dari sisi diversifikasi pasar melakukan (perdagangan) lebih banyak ke Singapura, China, Eropa, baru AS," ujar Ani, sapaan akrab Sri Mulyani Indrawati saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis malam, 17 November 2016.
 
Menurut Ani, apabila Trump benar-benar ingin menghapuskan perjanjian perdagangan dengan negara-negara, termasuk Trans Pasific Partnership, maka hanya akan ada dua negara yang menerima dampak tercepat dari keputusan tersebut.
 
"Vietnam akan mendapatkan keuntungan yang banyak sekali kalau ikut TPP. Malaysia juga akan menikmati keuntungan paling besar. Artinya kalau (AS) lebih tertutup, mereka akan terpukul lebih cepat dalam hal ini," ujarnya.
 
Lagipula, lanjut mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut, sikap proteksionisme Trump sama sekali belum terbukti akan benar-benar diterapkan, mengingat filosofi dari partai Republik sendiri lebih aktif untuk membuka perjanjian perdagangan internasional.
 
Ani memandang, kondisi perekonomian China tetap harus dicermati ke depan. Perubahan ekonomi yang sedang diterapkan berpotensi memberikan dampak dari menurunnya permintaan negara tersebut, tak terkecuali bagi Indonesia.
 
"Maka, kita harus mengelola ekonomi dengan pondasi dalam negeri yang lebih kuat, supaya bisa tahan dari guncangan yang lebih terkontrol," katanya.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP