TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
BISNIS

Jawaban BI Atas Lemahnya Nilai Tukar Rupiah dalam Sepekan 

Pasar meyakini The Fed naikan suku bunga akhir tahun ini.
Jawaban BI Atas Lemahnya Nilai Tukar Rupiah dalam Sepekan 
Dolar AS dan rupiah. (VIVA.co.id/Muhamad Solihin)

VIVA.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada hari ini, Jumat 18 November 2016, kembali melanjutkan pelemahan. Rupiah dalam sepekan terakhir, memang mengalami volatilitas yang cukup dalam, dari kisaran Rp13.100-13.400 per dolar AS.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, mata uang Garuda hari ini berada di level Rp13.408 per dolar AS, atau melemah Rp23 dari posisi perdagangan sebelumnya, yakni di level Rp13.385 per dolar AS.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengungkapkan, semakin lemahnya rupiah dalam beberapa hari terakhir murni, karena ekspektasi pasar yang meyakini bank sentral AS (The Federal Reserve) akan menaikkan tingkat suku bunga acuannya pada akhir tahun.

"Itu membawa ke flight to quality. Banyak outflow (keluarnya dana asing), yang keluar dari negara berkembang yang cukup besar, dari saham maupun SBN (Surat Berharga Negara) yang dilepas," ujar Agus, saat ditemui di Kompleks BI Jakarta, Jumat 18 November 2016.

Dalam beberapa hari terakhir, arus modal yang keluar dari Indonesia telah mencapai Rp16 triliun. Meski begitu, secara year to date sejak awal tahun hingga hari ini, arus modal yang masuk ke Indonesia telah mencapai Rp133 triliun. Sehingga, hal itu masih bisa dikompensasi.

Lagipula, mantan menteri keuangan itu meyakini periode ini hanya berjalan sementara. Apalagi, perekonomian nasional jauh lebih stabil dibandingkan negara-negara tetangga. Sehingga, arus modal pun cepat, atau lambat akan segera kembali.

"Mereka biasanya lepas dahulu. Awal tahun nanti akan kembali lagi. Tentu, akan ada aliran kembali ke Indonesia," kata dia. (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP