TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
BISNIS

Pertamina Diharapkan Jadi Ujung Tombak Pertumbuhan Ekonomi

Pertamina akan membuka peluang kerja sama dengan swasta.
Pertamina Diharapkan Jadi Ujung Tombak Pertumbuhan Ekonomi
Ilustrasi kilang minyak Pertamina. (Pertamina)

VIVA.co.id – Deputi I Kantor Staf Kepresidenan Bidang Pengendalian, Pembangunan, Monitoring dan Evaluasi Program Prioritas, Darmawan Prasodjo, mengatakan jika PT Pertamina bisa merealisasikan proyek senilai Rp100 triliun pertahun maka akan dapat memberikan kontribusi hingga 1 persen terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Investasi yang dilakukan itu misalnya untuk penambahan pembangunan kilang baru atau pun kegiatan investasi baru yang mampu menciptakan efek berganda alias multiplier effect.

"Misalnya, investasi Pertamina Rp100 triliun saja, kontribusinya sudah satu persen sehingga ujung tombak ekonomi ya Pertamina ini, dengan menambah aktivitas ekonomi baru," kata Darmo sapaan akrab Darmawan di Jakarta, Sabtu, 19 November 2016.

Hal itu juga diakui oleh Direktur Utama PT Pertamina, Dwi Soetjipto. Meski demikian, jelas Dwi, kebutuhan investasi itu tentu saja tidak bisa hanya dipenuhi dari kocek Pertamina sendiri. Untuk itu, ia mengatakan bahwa pihaknya akan membuka peluang kerja sama dengan swasta.

"Karena seperti disebutkan Pak Darmo, sebenarnya peran pemerintah dan BUMN itu tidak cukup. Peran swasta juga harus dikedepankan. Pertamina tidak bisa sendiri untuk itu," kata Dwi.

Dwi menjelaskan, selain untuk menyumbang pertumbuhan ekonomi, hal itu juga berdampak kepada ketahanan energi di Indonesia. Ia merincikan bahwa dibutuhkan sekitar US$9 miliar per tahun atau Rp117 triliun untuk membangun ketahanan energi.

Hitungan Dwi tersebut didasarkan pada kebutuhan investasi untuk beberapa kegiatan. Misalnya untuk kegiatan di hulu yang membutuhkan  investasi sekitar US$7 miliar. "Jadi investasi dalam negeri kami dibutuhkan US$3,5 miliar, artinya 50 persen untuk eksplorasi dalam negeri, 50 persen untuk overseas," kata Dwi.

Selain eksplorasi, lanjut dia, Pertamina juga membutuhkan US$4 miliar pertahun untuk kegiatan pembangunan kilang baru, dan peningkatan kapasitas kilang eksisting. Dwi mengatakan, saat ini perseroan tengah membangun 4 kilang eksisting dan 2 kilang baru.

"Dalam 10 tahun ke depan, ada 4 yang upgrading, ada 2 kilang baru, ada juga sekarang yang berminat, kalau swasta juga mau bangun silakan kalau swasta, kalau ada kelebihan (pasokan) itu nanti kita ekspor," kata dia. (ase)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP