TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
BISNIS

Sejumlah Desa Wisata di Yogyakarta Mati Suri

Permasalahannya ketidakmampuan membuat program dan atraksi menarik.
Sejumlah Desa Wisata di Yogyakarta Mati Suri
Desa wisata hutan pinus mangunan di  (VIVA.co.id/Daru Waskita)

VIVA.co.id – Di saat kunjungan turis ke Yogyakarta semakin marak, desa wisata di Kabupaten Sleman di Yogya, justru tidak banyak aktivitas, bahkan bisa dikatakan mati suri. Saat ini, tercatat ada 39 desa wisata yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Sleman.

"Desa wisata yang bisa dikatakan mati suri, di antaranya Desa Wisata Rejosari di Kecamatan Cangkringan, Desa Wisata Pajangan di Kecamatan Sleman, Trumpon di Tempel, Bangunkerto dan Kembangarum di Turi, Kaliurang Timur di Pakem, Mangunan di Berbah, serta Jantungan Sendari di Mlati,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Endah Sri Widiastuti, Senin 21 November 2016.

Menurutnya, desa wisata yang mati suri tersebut, dahulu cukup aktif dan mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan. Namun, sekarang malah cenderung menurun aktivitasnya, dan bahkan mati suri.

“Bahkan, ada yang telah membubarkan diri," katanya.

Penyebab matinya perkembangan desa wisata tersebut, ujarnya, sangat beragam. Di antaranya, permasalahan internal pengurus maupun ketidakmampuan pembuatan program dan atraksi yang menarik.

"Kondisi ini sangat disayangkan, mengingat beberapa desa justru berpotensi menjadi desa wisata unggulan. Misalnya, Trumpon yang dulunya terkenal dengan agrowisata perkebunan salak pondoh," katanya.

Endah mengatakan, keberadaan desa wisata memang sangat tergantung pada keaktifan pengelola, terutama dalam menggali potensi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat setempat untuk dikemas menjadi atraksi wisata yang menarik.

Pembinaan

Eva mengatakan, pihaknya mengevaluasi desa wisata, yang saat ini masih ada, melalui beberapa indikator. Yakni, potensi atraksi, kapasitas manajerial pengelola, peran serta masyarakat, sarana dan prasana, pemasaran dan promosi, aksesibilitas, serta kepemilikan aset.

Ia mengatakan, hasil evaluasi dijadikan dasar pengklasifikasian desa wisata dalam tiga bentuk, yakni desa wisata tumbuh, berkembang, dan mandiri. Dari 39 desa wisata, 14 desa di antaranya terklasifikasi tumbuh, delapan desa klasifikasi berkembang, dan sembilan desa klasifikasi mandiri.

"Desa wisata yang mati suri, kami akan konfirmasikan lagi kepada masyarakat setempat, jika ada minat untuk membangkitkannya lagi. Kalau masih ada potensi dan kemauan masyarakat, kami bina lagi. Karena, dasar utama desa wisata adalah peran aktif masyarakatnya," katanya.

Kepala Dinas Pariwisatawa Pemkab Bantul, Yogyakarta, Bambang Legowo mengatakan, terdapat 37 desa wisata sesuai SK Bupati Bantul, namun dari jumlah tersebut yang masih aktif menerima tamu hanya sekitar sepertiganya saja. Sisanya, belum memiliki agenda yang rutin, meski jika ditanya mereka sudah punya program.

"Misalnya ada wisatawan yang akan datang, pengelola wisata sudah siap menerima, namun tidak setiap hari terima tamu ada agenda rutin," ujarnya. (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP