TUTUP
TUTUP
BISNIS

Sejumlah Proyek PLTU Dihentikan. Ini Alasannya

PLN masih akan mencari solusi.
Sejumlah Proyek PLTU Dihentikan. Ini Alasannya
Pekerja melakukan proses perbaikan kincir angin di Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH), Pantai Baru, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (25/8/2016).  (ANTARA/Hendra Nurdiyansyah)

VIVA.co.id – Presiden Joko Widodo sempat menyoroti sebanyak 34 proyek listrik yang mangkrak milik PT PLN. Total kapasitas dari proyek tersebut sebanyak 627,8 megawatt yang merupakan proyek listrik di periode 2007 hingga 2012. 

Dari 34 proyek tersebut, ada sebanyak 10 proyek yang berada di Kalimantan. Adapun sebanyak 7 proyek akan dilanjutkan sedangkan tiga proyek sisanya determinasi alias diberhentikan. 

Demikian diungkapkan Direktur Bisnis PLN Regional Kalimantan , Djoko Rahardjo Abumanan. Ia menjelaskan, dari tiga pembangkit yang determinasi itu, adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Buntok, PLTU Kuala Pembuang dan PLTU Tarakan.

Untuk PLTU Tarakan, perusahaan pelat merah tersebut memilih untuk melakukan terminasi karena adanya permasalahan lahan yang berkepanjangan. Djoko mengungkapkan, bahwa pihaknya sudah melakukan pembayaran namun masih terjadi tumpang tindih hak kepemilikan lahan.

"PLTU Tarakan ini kita putus karena persoalan tanah. Tanah di sana tidak putus sampai hari ini, karena ketika sudah bayar masih tumpang tindih kepemilikannya. Akhirnya karena riskan, kontraknya kita putus," kata Djoko di kantor pusat PLN, Jakarta, Rabu 23 November 2016. 

Menurutnya, kontraktor pelaksana dari proyek PLTU Tarakan ada PT Adhi Karya yang kontraknya telah dilakukan sejak 2011. Ia menjelaskan, meski tidak dilanjutkan lagi, pihaknya akan terus mencari solusi yang terbaik. 

Sementara itu, untuk dua proyek lainnya sudah ada solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik di pulau Kalimantan itu. Seperti untuk PLTU Buntok, saat ini sudah digantikan keberadaanya dengan Gardu Induk (GI) berkapasitas 30 MW yang sudah beroperasi sejak September 2016 lalu.

"Buntok itu sudah kami ganti dengan GI yang sudah beroperasi sejak September 2016. Kapasitasnya sudah besar di sana 30 MW," kata dia. 

Selanjutnya, untuk PLTU Kuala Pembuang juga akan digantikan keberadaannya dengan GI yang pembangunannya saat ini sudah menyentuh wilayah pelabuhan Sampit.

Ia menjelaskan, keberadaan PLTU dengan kapasitas 2x3 MW tersebut dikhawatirkan akan mempersulit pengoperasiannya, sehingga opsi untuk membangun GI dinilai lebih tepat.

"Di sana itu kami putuskan akan dibangun gardu induk, kita putuskan sudah deh daripada PLTU 2x3 MW sangat riskan karena PLTU-nya kecil nanti operasionalnya susah, akan sama dengan PLTU besar, lebih baik GI," ujarnya.

(mus)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP