TUTUP
TUTUP
BISNIS

Investasi Apartemen Masih Prospektif di Awal 2017

Harga properti di Indonesia tak pernah anjlok lama dan selalu naik.
Investasi Apartemen Masih Prospektif di Awal 2017
Apartemen Signature Park Grande, Cawang-MT Haryono

VIVA.co.id – Maraknya pembangunan infrastruktur di Ibu Kota Jakarta dan kawasan sekitarnya dinilai menjadi landasan positif berkembangnya sektor properti pada 2017. Kebijakan pemerintah yang pro bisnis dan ekspektasi tinggi dari program pengampunan pajak atau tax amnesty menjadi gairah pasar untuk meningkatkan sektor properti di Indonesia.

Selain itu, target pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan di atas lima persen tahun depan dan masih kecilnya ratio Produk Domestik Bruto (PDB) terhadap KPR di Indonesia yaitu sebesar 2,8 persen dibandingkan Singapura sebesar 45,9 persen dan Malaysia sebesar 37,8 persen makin membuat sektor ini semakin bergeliat pada 2017

Saat ini, jumlah apartemen yang terbangun sekitar 120 ribu unit. Berdasarkan pasokan kawasan CBD (Sudirman-Thamrin-Kuningan-Gatot Subroto) dan Jakarta Utara memasok sekitar 27 ribu unit apartemen, Jakarta Barat 23 ribu dan Jakarta Selatan 20 ribu. Lalu, Jakarta Pusat memasok sekitar 16 ribu dan Jakarta Timur hanya sekitar 5 ribu unit. 

Anton Sitorus, Director Head of Research and Consultancy Savills Indonesia, mengatakan banyaknya pasokan properti tersebut tentunya menjadi peluang investasi, terlebih kenaikan dan turunnya harga properti dapat diprediksi. Bahkan di Indonesia belum ada sejarah harga properti anjlok dalam waktu lama.

Untuk itu, Ia mengingatkan agar momentum ini jangan ditunda untuk membeli apartemen sebelum harga melejit pada tahun depan, sebab jika telat harga semakin tinggi dan capital gain yang diperoleh pun lebih kecil. Dan adapun lokasi yang tepat saat ini ada di kawasan pengembangan baru atau emerging district seperti di Cawang-MT Haryono. 

Lokasi tersebut tidak sekadar dilalui lalu lintas tapi harus memperhatikan akses yang mudah dan infrastrukturnya berpotensi untuk berkembang. Konsep yang terencana dan matang sangat menunjang prospek pengembangan di kemudian hari. 

“Jika dikaitkan supply by area, Jakarta Timur berpotensi jadi kawasan pengembangan baru, mengingat langkanya lahan di kawasan Jakarta. Khusus, Cawang-MT Haryono berpotensi jadi kawasan CBD baru di mana gedung-gedung jangkung, baik perkantoran, komersial, maupun hunian memadati kawasan ini,” ucap Anton dalam keterangan resminya, Jumat, 25 November 2016.

Adapun yang membuat kawasan ini menarik adalah, dibangunnya berbagai infrastruktur transportasi publik yang terintegrasi di kawasan tersebut. Kondisi ini, mendorong pengembangan tren transit oriented development (TOD) atau konsep pengembangan properti yang terintegrasi dengan jaringan transportasi publik.

“Properti-properti di sekitar atau dekat dengan mass rapid transit (MRT) atau light rail transit (LRT) punya potensi mengalami pertumbuhan harga yang luar biasa ke depannya. Kenaikan harga tanah dan properti, rata-rata bisa 15-20 persen per tahun dalam jangka panjang,” kata Anton. 

Sementara itu, Presiden Direktur Pikko Land, Nio Yantony mengatakan kawasan sekitar Cawang-MT Haryono yang berlokasi tidak jauh dari area segitiga bisnis Jakarta merupakan pintu masuk pergerakan masyarakat yang tinggal di Cibubur, Depok dan Bekasi. 

Pembangunan infrastruktur penghubung tol Becakayu dan LRT yang direncanakan selesai pada 2018, jelas mengerek harga lahan dan properti di kawasan pengembangan kawasan hunian terintegrasi, Signature Park Grande (SPG). 

“Kawasan hunian SPG terintegrasi dengan TOD yang dikelilingi infrastruktur yang mendukung kegiatan pemiliknya seperti pusat perkantoran, pusat perbelanjaaan maupun stasiun transit (stasiun kereta, LRT, pintu tol dan pemberhentian angkutan lainnya),“ ucap Yantony. 

Pikko Land melalui anak usahanya bekerja sama dengan PJM Group dalam KSO Fortuna Indonesia mengembangkan kawasan hunian terpadu pertama di lokasi sangat strategis yaitu CBD jalan MT Haryono. Di lahan seluas 4,4 hektare, Pikko Land membawa konsep One Stop Living untuk membangun dua menara hunian The Light dan Green Signature. 

Pembangunan kawasan terpadu residensial dengan kawasan komersial bersertifikat strata title ini, menggandeng kontraktor Pulau Intan. 

“Serah terima unit Menara The Light dengan ketinggian 19 lantai dan memiliki luas bangunan sekitar 88,03 meter persegi direncanakan mulai Januari 2017. Sedangkan, Menara The Green Signature setinggi 20 lantai dengan luas bangunan sekitar 52,171 meter persegi, diserahkan mulai Juli 2017,” tambah Yantony.

Untuk harga dan tipe unit, apartemen The Light dan Green Signature dipasarkan dengan harga kompetitif yaitu mulai Rp700 juta hingga Rp1,6 miliar sesuai dengan komposisi kamar per unitnya. Untuk pusat bisnis dan komersial seluas 44 sampai 90 meter persegi, dipasarkan pada kisaran Rp3,3-Rp6,7 milliar.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP