TUTUP
TUTUP
BISNIS

Sri Mulyani Cermati Efek Gejolak Pilpres di Eropa

Jerman maupun Prancis akan selenggarakan pilpres.
Sri Mulyani Cermati Efek Gejolak Pilpres di Eropa
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat dicurhati pemiliki toko di Pasific Place (VIVA.co.id/Romys Binekasri)

VIVA.co.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencermati gejolak politik negara-negara kawasan Eropa yang dikhawatirkan memberi pengaruh pada pertumbuhan ekonomi dunia. Gejolak ekonomi global, juga tentu akan berimplikasi terhadap laju perekonomian nasional.

Dalam waktu dekat, negara-negara besar di kawasan Uni Eropa (EU) seperti Jerman maupun Prancis akan menyelenggarakan pemilihan presiden. Siapa pun yang nantinya terpilih sebagai pemimpin, tentu akan ada arah kebijakan yang berbeda.

"Ini akan menentukan, apakah EU masih bisa recovery pertumbuhannya di angka 1,5 persen," kata Ani, sapaan akrab Sri Mulyani, dalam sebuah diskusi di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu 26 November 2016.

Situasi tersebut, kata Ani, ditambah dengan proses negosiasi keluarnya Inggris dari EU, yang masih penuh dengan ketidakpastian. Di samping itu, kondisi perekonomian Negeri Paman Sam pun tetap dicermati oleh mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Sebab, kebijakan presiden terpilih Donald Trump yang berencana untuk mengekspansi fiskal dalam rangka pembangunan infrastruktur, tentu akan menjadi pertimbangan The Federal Reserve, untuk menentukan arah kebijakan moneternya ke depan. 

Meski begitu, sikap proteksionisme Trump terkait perdagangan internasional juga akan berpengaruh kepada perekonomian Tiongkok sebagai mitra dagang utama. Apapun yang terjadi dengan ekonomi Negeri Tirai Bambu, tentu berpengaruh pada ekonomi Indonesia. "Dari global, sisi eksternal pengaruhnya akan menimbulkan risiko lebih besar. Kita perlu berhati-hati," katanya.

Ani memandang, situasi global tentu berdampak pada akselerasi pertumbuhan ekonomi dunia. Apalagi, sejumlah lembaga internasional seperti World Bank maupun International Monetary Fund dalam lima tahun terakhir merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia.

"Ini diperkirakan masih berlanjut di 2017. Semua orang sudah perhatikan itu. Ini terus terjadi dalam lima tahun belakangan," ujarnya.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP