BISNIS

Malaysia 'Kirim' Baju Bekas ke Indonesia

Penyelundupan baju bekas ini jejaknya berhasil tercium Bea dan Cukai.
Kamis, 3 September 2009
Oleh : Umi Kalsum, Agus Dwi Darmawan

VIVAnews - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, akhir Agustus lalu berhasil menggagalkan importasi pakaian bekas asal Malaysia. Meski tidak cukup banyak, namun penindakan atas penyelundupan pakaian bekas ini cukup signifikan kalau dihitung per potong.

Direktur Penindakan dan Penyidikan Bea dan Cukai Thomas Sugijata mengatakan, jumlah yang berhasil diamankan mencapai 2.160 ball.

"Jumlah ini lebih banyak dari tangkapan sebelumnya yang hanya 1.500 ball," kata Thomas disela-sela konferensi pers di Kantor Madya Bea dan Cukai Bogor, Kamis 3 September 2009. Satu ball kira-kira berisi 100-300 potong pakaian.

Penyelundupan pakaian bekas, kata Thomas, memang salah satu yang diantisipasi saat-saat menjelang lebaran seperti ini. Penangkapan ini pun terbilang unik, karena pemilik kapal membawa surat impor barang yang disebutkan dari Nusa Tenggara Timur.

"Kami karena ada suratnya, itu tidak bisa apa-apa, tapi kalau dipikir, mana ada pakaian bekas dari daerah timur," ujarnya.

Thomas pun membeberkan bagaimana modus penyelundupan dari Malaysia. Kronolginya kata dia, ada informan yang memberitahukan bahwa ada pengangkutan lewat kapal tradisional ukuran 100-300 ton dari Klantan, Malaysia, menuju Indonesia.

Mengingat wilayah lautan Indonesia yang luas, Bea dan Cukai menyiagakan semua unit patroli untuk mengawasi semua lini. Termasuk bagaimana menyiagakan semua kantor pengawasan yang mungkin dilalui kapal itu.

"Persiapan yang menjadi tujuan kapal, misal di Jawa Timur, Banyuwangi, Bali dan daerah-daerah lain," katanya. Akhirnya menjelang akhir Agustus, Direktorat Bea dan Cukai berhasil menemukan jejak kapal itu di sekitar Banyuwangi. Kapal pun kemudian ditangkap dengan barang bukti.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengatakan selama bulan puasa ini memang strategi pengawasan dan patroli laut Indonesia terus diperketat oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Setidaknya ada 13 kapal patroli yang dipakai dan melibatkan tak kurang dari 200 personel.

"Mereka ini ditempatkan di posisi strategi, seperti di Belawan, Tanjung Balai, Pontianak, Madura, dimaksudkan untuk menghalau melalui Selat Malaka, juga di jalur lain seperti Pamekasan dan Banyuwangi," ujar Anwar.

Berkat usaha ini, kata Anwar, produk tekstil dalam negeri sudah mulai banyak dipasaran dibanding importasi. Asosiasi tekstil menurutnya telah mengapresiasi hal ini.


Berita Terfavorit:
1. Anang Terima Gugatan Cerai KD
2. Korban Berjatuhan di Tangga Darurat
3. Berba Mulai Mengenal Setan Merah Lainnya
4. Menkeu Sindir Banyak Orang Sudah Lupa Krisis
5. Chelsea Umumkan Skuad Liga Champions

TERKAIT
TERPOPULER