TUTUP
TUTUP
BISNIS

Pengerjaan Tambang Terbuka Grasberg Freeport Selesai 2018

Tambang terbuka dinilai sudah tak lagi efisien.
Pengerjaan Tambang Terbuka Grasberg Freeport Selesai 2018
Tambang Grasberg Freeport Indonesia di Papua (VIVA.co.id/Banjir Ambarita )

VIVA.co.id – PT Freeport Indonesia menyatakan, pengerjaan tambang terbuka di tambang Grasberg akan selesai pada 2018. Selanjutnya, perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu akan mengeruk potensi sumber daya alam yang ada di bawah tanah tambang tersebut.

SVP Geo Engineering PT Freeport Indonesia, Wahyu Sunyoto mengatakan, pihaknya pada 2018, akan mulai fokus untuk mengerjakan tambang bawah tanah, lantaran cadangan di tambang terbuka sudah habis.

"Ke depan, akhir 2017, atau 2018, tambang terbuka Grasberg akan selesai dan akan dilanjutkan tambang bawah tanah untuk menambang objek ore (mineral mentah) di bawah," kata Wahyu di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin 20 Maret 2017.

Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Papua, Bangun S. Manurung membenarkan hal tersebut. Menurut dia, penambangan di tambang terbuka sudah tak lagi efisien dilakukan pada 2018.

"Karena, sudah tidak efisien lagi kalau tambang terbuka. Jadi, berhenti dan konsentrasinya itu di bawah tanah. Itu menurut rencana mereka, 2018 tutup itu yang tambang terbuka," kata dia, ditemui usai diskusi.

Menurut Bangun, PT Freeport Indonesia meminta perpanjangan kontrak karya hingga 2041. Tambang bawah tanah Freeport pun masih ada sedikit cadangan yang tersisa hingga 2054, sedangkan cadangan Grasberg sudah tak tersisa.

"Cadangan belum habis yang cadangan bawah tanah. Meskipun 2041 dipenuhi (perpanjangan) KK (kontrak karya)-nya masih ada cadangan. Kemudian, siapa tahu juga ditemukan lagi cadangan baru, karena ada juga di Blok Wabu (lokasi tambang di Papua) yang belum ditangani," tutur dia.

Ia mengatakan, dari pihak Dinas ESDM Papua, juga meminta agar tujuh suku adat yang ada di Papua untuk diperhatikan, seperti suku Amungme, Kamoro, dan lainnya. Freeport memiliki tanggung jawab sosial (CSR) kepada suku-suku yang tinggal di sekitar area pertambangan.  

"Yang jelas ada tujuh suku, supaya ke depan CSR dikelola lebih baik dan transparan. Ada kemungkinan, keuntungan jatuh ke elit lokal. Tetapi, yang jelas kewajiban perusahaan lakukan itu," ujarnya. (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP